Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Kisah Sial dari Kursi Nomor 31

Kamis, 19 Desember 2019. Siang itu, bersama enam anggota keluarga, saya menumpang bus AKAP jurusan Jakarta. Kabin itu menampung 40 kursi penumpang, ditambah 6 kursi paling belakang yang disekat kaca persegi panjang. Tepat di samping pintu belakang, bercokol toilet sempit seluas setengah meter. Bisa dibayangkan betapa sesaknya. Belum lagi uap pesing yang mengepung udara kotor di dalam kabin. Hanya satu kata yang sanggup melintasi benak: jorok . Sambil membendung napas, saya menghempaskan tubuh di kursi nomor 31. Tak lama, bus merayap meninggalkan terminal. Saya mengira seluruh kursi akan berjejal penuh. Nyatanya, hanya separuh yang terisi. Konon, sisa kursi kosong itu telah dipesan calon penumpang yang baru akan naik di Solok, Jambi, Bengkulu, Palembang, hingga Lampung. Saya membatin heran: Mengapa penumpang jarak dekat justru diberi posisi depan, sementara kami yang naik dari terminal asal dan menempuh perjalanan berhari-hari malah dilempar ke sudut belakang? Sungguh sengkarut aturan...

Postingan Terbaru

Lebih Dari Sekedar Lima Ribu

TERLUKA