Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Lebih Dari Sekedar Lima Ribu

      Mentari belum lagi terbit di ufuk timur, namun deburan ombak dan angin malam yang dingin sudah menyapa gubuk bambu milik Pak Usman. Di tepi pantai yang mulai remang, belasan nelayan sudah bersiap menarik pukat. Pak Usman mengikat kencang kain sarung di pinggangnya yang makin hari makin ramping—bukan karena diet, melainkan karena beratnya tarikan jaring saban hari. "Mikirin apa, Pak? Kok melamun aja dari tadi?" tegur Deri, nelayan muda yang berdiri di sampingnya sambil merapikan tali tambang. Pak Usman tersenyum tipis, menghembuskan napas panjang. "Nggak ada apa-apa, Der. Cuma sempat kepikiran teman seangkatan sewaktu sekolah dulu. Ada yang sudah jadi pejabat kantor, jadi birokrat, bahkan ada yang duduk di kursi wakil rakyat." Deri terkekeh sambil menyapu keringat di dahinya. "Wah, Pak Usman nggak pengin ikut jadi pejabat juga? Siapa tahu bisa pakai jas rapi, duduk di ruangan ber-AC." "Halah, kalau dibilang ingin, ya siapa yang nggak ingin?"...

Postingan Terbaru

TERLUKA

Nasi dan Sayur

JUAL HARTA PUSAKA DIKUTUK NENEK MOYANG