JUAL HARTA PUSAKA DIKUTUK NENEK MOYANG
Mak Pono menghisap dalam-dalam rokok daun enau miliknya, menyemburkan asap tipis ke udara ranah Minang yang sejuk. Di hadapannya, Mak Mamak kaum dan beberapa kemenakan muda sedang berkumpul di teras rumah gadang. Suasana agak tegang, pasalnya Mak Sutan—salah satu kemenakan yang baru pulang merantau dari Jakarta—mengusulkan ide yang "cemerlang". "Daripada tanah pusaka tinggi kita di ujung kampung itu semak belukar begitu, Mak, elok kita jual saja," ujar Mak Sutan mantap, sambil menggoyang-goyangkan kunci mobil Fortuner hitam yang terparkir di halaman. "Harganya sedang melambung. Lagipula, kan kita-kita juga keturunannya. Dari nenek turun ke cucu, cucu ke cicit, cicit ke cicit-cicit lagi. Kan sah-sah saja milik bersama?" Mak Pono terkekeh pelan. "Ooo, gampang sekali mulutmu bicara, Sutan. Kau lupa cerita Si Malin yang menjual tanah pusaka kaum sebelah tiga tahun lalu?" "Kenapa dia, Mak? Katanya kena kutuk ruh nenek moyang sampai gila, kan?...