TERLUKA
Angin sore di Teluk Bayur berembus membawa aroma garam dan kepulan asap kapal yang bersiap lepas sandar. Di sudut dermaga, Kinanta menatap tajam ke arah Almunas. Otak Kinanta sebetulnya sudah melayang sejauh angkasa—merangkai ribuan skenario masa depan yang indah. Namun, dari sekian banyak rencananya, tak satu pun yang sudi menjadi kenyataan. Melihat Almunas berdiri berdampingan dengan seorang wanita anggun dan dua anak kecil yang menggemaskan, timbul desakan di dada Kinanta. Ia pun ingin berada di posisi itu. Tapi apa mau dikata, karena nasib belum berpihak, untuk sementara ia harus puas cukup menyayangi anak orang lain dulu. "Kau sudah bertopang sekarang. Sudah punya sandaran. Isterimu tampak sabar dan anggun. Sudah berapa kiranya buah hati?" ujar Kinanta membuka suara. Ia adalah perempuan yang sedari tadi mengintip dari kejauhan, menanti sosok pria yang sangat dihafalnya. "Baru dua. Seorang laki-laki dan perempuan," jawab Almunas pelan. ...