TERLUKA
Sejauh langit di angkasa, sejauh itu juga dia berfikir, tapi tak satupun dari yang ia pikirkan menjadi kenyataan. Melihat mantan kekasihnya sudah berkawin dan punya anak, ingin pula dia berposisi, tapi karena nasib masih belum, terpaksalah dia menyayangi anak orang.
"Kau sudah bertopang sekarang. Sudah punya sandaran. Isteri kau tampak sabar dan anggun, sudah berapa kiranya buah hati?, "ujar Kinanta perempuan muda yang sedari tadi mengintip dari kejauhan, menunggu sosok pria yang ia kenal.
" Baru dua. Seorang laki-laki dan perempuan, "jawab Almunas, mantan pria yang dahulu sempat memadu kasih dengannya.
" Kalau kau tak berbelok dan terus setia, mungkin aku yang akan di posisi itu, "balas Kinanta.
Almunas hanya tersenyum miris, sembari membayangkan betapa kejam dirinya meninggalkan Kinanta, merantau ke ibu kota. Bukannya pulang bawa cincin lamaran, tapi malah pulang membawa dua anggota keluarga.
Lima tahun sudah berlalu, sejak Almunas meninggalkan Kinanta. Kinanta yang elok rupa dan santun sikap, senantiasa menunggunya di Pelabuhan Teluk Bayur. Berharap-harap cemas dengan janji Alumunas, kalau sudah berhasil akan mempersuntingnya. Namun apa dinyana, bukannya mempersunting malah membuat Kinanta sinting oleh kelakuan Almunas yang ingkar janji.
"Kenapa tak kau kabarkan aku, jika kau sudah berdua di sana. Minimal kirim surat kan bisa. Akupun bisa menata hidup di sini. Sudah berapa pria yang aku tolak demi kau,"ucap Kinanta.
Alumunas hanya tertunduk, entah karena dia merasa bersalah, atau hanya sekadar pura-pura bersedih. Kinanta pun menunjuk pelabuhan Teluk Bayur.
"Itu, tempat jadi saksi aku menunggu kau, harap-harap cemas kita bersua. Rupanya kita benar-benar bersua, dalam kepiluan. Aku yang pilu, kau bahagia, "hardik Kinanta.
" Maafkan aku, sedari awal aku yang salah menyuruh kau menunggu, tapi tak kusangka setelah lama berpisah, kau akan lupa, rupanya kau masih menunggu, aku minta maaf, "ucap Almunas.
" Iya, sudahlah, aku ikhlas," Kinanta pun beranjak meninggalkan Almunas bersama isteri dan anaknya, dengan jalan tergopoh-gopoh, dan sempoyongan, sesekali ia terjatuh, namun masih bisa berdiri lagi. Diperjalanan air mata tak henti mengalir.
Komentar
Posting Komentar