SI GALIMBING 2: BUKAN PEJABAT LAGI
Si Galimbing sudah bukan orang biasa lagi.
Ia sudah menjabat.
Bukan lagi kuli bangunan. Bukan pula tukang sapu halaman
rumah orang. Sekarang, ia adalah orang nomor tiga setelah wakil ketua dalam
sebuah organisasi di kampungnya.
Hebat, bukan?
Tentu saja.
Bagi Galimbing, jabatan itu seperti durian runtuh. Tak
pernah ia bayangkan sebelumnya. Sekarang ia bisa duduk di kursi depan, sejajar
dengan pak camat, pak lurah, bahkan anggota DPRD kota ketika ada acara.
Dahulu, kalau menghadiri kegiatan, ia duduk di tengah-tengah
para pemuda dengan pakaian seadanya. Kini jangan ditanya. Kemeja kotak-kotak
bergaris selalu rapi dikenakannya. Rambut disisir licin. Sepatunya mengilap.
Betul-betul seperti pejabat.
Orang-orang pun tak lagi memandangnya seperti dahulu.
Kalau ada warga yang hendak mengurus sesuatu melalui
organisasi, mereka harus melewati Galimbing terlebih dahulu.
“Lapor ke saya dulu, baru ke ketua,” katanya suatu pagi
kepada seorang warga yang sudah sejak tadi menunggu.
“Kenapa begitu, Bang?”
Galimbing membetulkan kerah kemejanya.
“Saya ini juga pejabat di sini.”
Warga itu hanya mengangguk.
Sejak mendapatkan jabatan, Galimbing memang berubah.
Dahulu ia ramah. Ia yang pertama kali menyapa orang. Kalau
bertemu tetangga, ia akan berhenti sebentar untuk berbincang. Kalau ada kawan
lama mengajaknya minum kopi, ia tak pernah menolak.
Sekarang berbeda.
Dagunya sedikit terangkat ketika berjalan. Orang-orang harus
menyapanya lebih dahulu. Kalau tidak, ia akan melewati mereka begitu saja.
“Galimbing itu sudah berubah,” bisik Darmin suatu sore.
“Berubah bagaimana?”
“Dulu kalau bertemu kita, dia yang menyapa. Sekarang menoleh
saja tidak.”
Hasdi, yang sejak muda memang tidak pernah akur dengan
Galimbing, ikut menyahut.
“Sudah merasa pintar dia. Padahal menulis ejaan saja sering
salah.”
Mereka tertawa kecil.
“Dia sekarang bukan kuli lagi,” kata Darmin.
Hasdi tersenyum.
“Ya. Sekarang dia pejabat.”
Kata pejabat itu mereka ucapkan dengan nada yang sulit
dibedakan: antara hormat dan mengejek.
-----
Jabatan itu rupanya membuat Galimbing merasa harus hadir
dalam segala urusan.
Ada undangan kegiatan, ia periksa.
Ada surat, ia edit.
Ada rapat, ia ikut bicara.
Ada kegiatan kelompok lain, ia ikut mengatur.
Suatu hari Haris, sekretaris organisasi kepemudaan, membuat
sebuah surat undangan.
Belum sempat surat itu dikirim, Galimbing sudah
mengambilnya.
“Ini biar saya periksa dulu.”
Haris mengerutkan kening.
“Sudah saya periksa, Bang. Saya kan sekretaris.”
Galimbing tersenyum tipis.
“Saya tahu. Tapi ini acara di bawah kepemimpinan saya. Jadi
saya harus lihat.”
Haris mencoba mengambil kembali surat itu.
“Kalau ada yang salah, nanti saya perbaiki.”
“Tidak usah. Biar saya saja.”
Akhirnya Haris menyerah.
Galimbing membawa surat itu untuk dicetak.
Beberapa jam kemudian surat tersebut kembali.
Haris membacanya.
Ia diam.
Kemudian membaca lagi.
Nama ketua salah.
Susunan acara berantakan.
Beberapa kalimat justru berubah makna.
“Bang...” Haris menahan napas.
“Apa?”
“Ini kok jadi begini?”
Galimbing melihat surat itu.
“Bagus, kan?”
Haris menatapnya.
“Ini bukan surat yang saya buat.”
“Ya, saya edit sedikit.”
“Sedikit?”
Haris menunjuk nama ketua yang salah.
Galimbing terdiam.
Namun bukannya meminta maaf, ia malah berkata,
“Yang penting sudah selesai.”
Haris hanya bisa menggelengkan kepala.
---
Kekacauan demi kekacauan pun mulai terjadi.
Namun Galimbing tidak pernah merasa bersalah.
Orang-orang menganggapnya sok tahu.
Ia tidak peduli.
Orang-orang menganggapnya terlalu ikut campur.
Ia tetap berjalan dengan dada membusung.
Lima tahun adalah masa jabatannya.
Dan dalam pikirannya, lima tahun itu adalah lima tahun
kesempatan untuk menunjukkan kepada semua orang bahwa dirinya sudah berubah.
Bukan lagi kuli.
Bukan lagi tukang sapu.
Sekarang, kalau orang bertanya pekerjaannya apa, ia punya
jabatan untuk disebutkan.
Itu sudah cukup membuatnya bangga.
---
Ada satu tempat yang sebenarnya paling dirindukan Galimbing,
kedai kopi Rasinas.
Dahulu, hampir setiap pagi ia duduk di sana bersama
kawan-kawannya. Mereka membicarakan pekerjaan, harga barang, pertandingan sepak
bola, sampai urusan kampung yang tak pernah habis.
Namun sejak menjabat, Galimbing jarang datang.
Suatu pagi, ketika ia melewati kedai itu, Asrin, suami
Rasinas, melihatnya.
“Galimbing!”
Galimbing berhenti.
“Tak mau lagi bergabung dengan kami? Sinilah dulu. Minum
kopi. Pagi-pagi sudah sibuk saja. Sudah seperti Pak Mentari.”
Hasdian yang duduk di dekatnya langsung menyahut,
“Pak Menteri maksudnya?”
Semua orang tertawa.
Asrin menggeleng.
“Bukan Pak Menteri. Pak Mentari.”
Tawa pecah di kedai.
Galimbing ikut tersenyum.
Tetapi senyum itu hanya sebentar.
Ada sesuatu yang terasa mengganjal di dadanya.
Ia kemudian berjalan pergi.
Dalam hati ia berkata, Mereka iri.
Begitulah Galimbing selalu menyelesaikan masalah.
Jika orang memujinya, berarti mereka mengakui dirinya hebat.
Jika orang mengkritiknya, berarti mereka iri.
Jika orang menertawakannya, berarti mereka tidak senang
melihat keberhasilannya.
Tidak pernah terpikir olehnya bahwa mungkin saja orang-orang
itu sedang mencoba memberitahunya sesuatu.
---
Lima tahun berlalu.
Jabatannya akhirnya selesai.
Pada suatu sore, Galimbing melewati kedai kopi Rasinas lagi.
Kali ini ia tidak mengenakan kemeja kotak-kotaknya.
Tidak ada lagi orang yang memanggilnya pejabat.
Ia berhenti di depan kedai.
Dari dalam terdengar suara tawa.
Kosong satu.
Ia masuk.
“Rasinas, kopi satu.”
Rasinas menoleh.
“Oh, Galimbing.”
Hanya itu.
Tidak ada yang berdiri menyambut.
Tidak ada yang memanggilnya untuk duduk.
Tidak ada yang bertanya bagaimana kabarnya.
Galimbing mengambil kursi di sudut.
Ia menunggu.
Barangkali Hasdian akan menghampirinya.
Barangkali Asrin akan melemparkan lelucon seperti dahulu.
Barangkali Darmin akan menepuk bahunya.
Tak ada.
Kawan-kawannya tetap bercakap-cakap.
Seolah-olah Galimbing bukan siapa-siapa.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa aneh.
Dahulu ia takut dianggap bukan siapa-siapa.
Karena itulah ia begitu bangga ketika mendapat jabatan.
Kini jabatan itu telah selesai.
Dan ia baru sadar—
*yang membuat seseorang dihormati ternyata bukan kursi yang
didudukinya, melainkan cara ia memperlakukan orang ketika masih duduk di
atasnya.*
Kopi di depannya sudah dingin.
Galimbing menunduk.
Untuk pertama kalinya, dagunya tidak lagi terangkat. *
Komentar
Posting Komentar