Baliak Ka Surau
"Kalau sajo Reza, Enggar, Dafa dan Raka, indak mada, tantu ibuk indak ka berang-berang model kini?," ujar Hasniar guru mengaji Reza dan kawan-kawan.
Di Surau Bancah ada empat orang santri yang nakalnya bukan alang kepalang. Kalau tak disuruh tak kan dia kerjakan. Kalau tak dimarahi, pasti telat datang. Bahkan jika tak ada guru yang razia, sudah jelas dia cabut untuk main futsal.
Itulah mereka Reza, Enggar, Dafa dan Raka. Bocah yang baru duduk di bangku kelas enam Sekolah Dasar. Kalau dibilang Reza sebagai ketua geng, Enggar pun tak kalah nakal dari ketua geng nya. Belum lagi Dafa, nampaknya saja pendiam, tapi pas tak ada guru, dia kabur ke lapangan. Raka pun demikian, sekarang dia janji tak cabut, besok pasti diulang lagi.
Kalau begitu, macam mana guru mengajinya tak marah?
Ceritanya bermula dari awal pertama MDTA itu mulai beraktivitas. Sore itu pukul 15.00 Wib, anak-anak mulai berlarian menuju surau, ada yang diantar orang tua pakai motor, ada juga yang berjalan dari rumah. Ada juga yang sudah setengah jam lalu datang. Begitulah aktivitas rutin setiap harinya di Surau Bancah, Jalan Raya Padang Painan tersebut.
Semua santri kala itu, sudah berkumpul dan duduk dengan rapi di ruang kelas lantai dua tersebut. Tak berapa lama lagi pelajaran akan dimulai. Masing-masing siswa sudah menyiapkan Alquran dan siap untuk membacanya. Ketika itu, hiruk pikuk lantunan ayat suci Alquran yang dibacakan oleh para santriwan, menggema sampai ke ruang sebelah.
Setelah setengah jam berlalu, tiba-tiba empat santri dari luar halaman surau berlarian menuju kelas. Mereka itu adalah Reza, Enggar, Dafa dan Raka. Mengenakan seragam tak lengkap, tanpa peci dan Alquran. Dengan gaya santai, tanpa rasa bersalah, mereka masuk ke ruangan, memilih duduk di sudut dinding samping pintu. Salah satu diantaranya langsung bercakap dengan teman sebelahnya.
"Beko jam 04.00 sore, awak main futsal lah. Langsuang se awak ka lapangan, indak usah ganti baju lai," Kata Enggar sambil berbisik kepada tiga kawannya.
"Kalau urang alun salasai mangaji baa? Kanai berang lah awak dek guru nyoh? Waang cari pakaro mah," ucap Reza.
Dafa pun membenarkan kata Reza, tapi jauh dari dalam hatinya, ia pun setuju dengan ajakan Enggar. Tiba-tiba muncul ide bagaimana cara meninggalkan kelas, agar mereka bisa main futsal.
"Kalau awak cabut sajo baa? Salasai atau indak salasai mangaji, awak kabur diam-diam," ucap Raka yang direspon dengan anggukan oleh tiga orang kawannya.
Ternyata benar, ketika waktu sudah menunjukkan pukul 16.00, aktivitas mengaji belum juga menunjukkan tanda-tanda berakhir.
Satu persatu dari mereka pura-pura ijin ke toilet, disusul oleh tiga kawan lainnya. Kondisi itu membuat para guru terkecoh, bahkan saking banyaknya murid, guru pun tak sadar, kalau empat orang muridnya tak kembali lagi ke ruang kelas.
Se sampai di halaman surau, mereka pun segera memacu sepeda ke lapangan futsal yang jaraknya tak begitu jauh dari surau.
"Kan lah den kecek an, kalau awak ijin surang-surang pasti guru indak curiga. Hahahaha," gumam Raka.
Se sampai di lapangan futsal, mereka berempat langsung meletakkan tas dan membuka seragam mengaji yang sudah dilapisi baju rumah. Enggar pun kembali mengingatkan kepada tiga kawannya tentang kegiatan esok.
"Jadi bisuak jaan lupo, awak satiok jam ampek main futsal," Kata Enggar.
"jadi kawan," ucap Reza, Dafa dan Raka.
Keesokan harinya seperti biasa, hal serupa seperti kemarin kembali terulang, yaitu, masuk mengaji telat dan setiap pukul 16.00 cabut secara bersamaan.
Kondisi itu berlangsung selama tiga hari berturut-turut. Salah satu guru pun mulai curiga dengan tingkah laku empat orang se kawan ini. Tepat pada hari ke lima, empat se kawan ini, tertangkap kabur saat pelajaran berlangsung oleh sang guru.
Hasniar selaku guru, langsung menghukum keempat santrinya agar membersihkan sampah di sekeliling surau, dan toilet surau.
Ketika itu dengan nada keras Hasniar berkata di depan seluruh santri, "Siapa yang sering terlambat datang ke surau?," sahut Harnias.
Semua siswa diam, tak ada satu pun yang menjawab, termasuk empat orang se kawan ini. Lalu, Riana selaku wali kelas empat orang se kawan ini bercerita, bahwa, Reza, Enggar, Dafa dan Raka sering datang terlambat bahkan tak pernah baca Alquran dalam satu minggu terakhir ini.
"Si Reza, Enggar, Dafa dan Raka, suka buat ulah, buk, bahkan mereka sering tak baca Al quran. Tak tahu tujuan mereka pergi mengaji ini untuk apa?," ucap Riana yang masih duduk di bangku SMA.
"Kalau begitu yang tak baca Alquran dan terlambat datang, berdiri ke depan," tegas Harnias.
Berdirilah sekitar tujuh orang siswa termasuk empat se kawan ini.
"Kini apo tujuan anak-anak ibu pai mangaji? Kalau indak ka mambaco Alquran? Kok saroman itu, indak usah sajolah pai ka surau, lalok sajo lah di rumah, atau indak pai lah bamain-main. Bialah baduo sajo murid ibuk, tapi inyo talok di patuh,"kata Harnias.
Merekapun hanya terdiam mendengar kata dari guru mengaji yang terkesan pemarah itu.
" Kini ibuk batanyo, lai sabana-bana ka nio mangaji Reza jo Enggar? Bajaleh-jalehlah. Kalau indak juo sikap barubah, untuk apo gunonyo kito mangaji?, "tutur Hasniar perempuan muda yang baru menginjak usia 25 tahun.
" Lai buk, awak nio mangaji, tapi jam 4.00 sore beko, kami nio main bola buk. Sedangkan mangaji ko, pulangnya taruih lewat dari jam sagitu, "ujar Dafa.
" Kalau, Dafa labiah mamiliah bamain bola. Bisuak pai sajo lah main bola. Ibuk indak ka ma larang-larang, anak-anak ibu bamain, tapi anak-anak ibuk harus tahu Alu jo Patuik. Harus tahu ma nan paralu ma nan indak paralu,"tutur Hasniar.
" Iyo buk, bisuak kami indak talambek dan cabut lai, "ucap Reza.
Keesokan harinya, empat se kawan ini, datang tepat waktu, membawa Alquran dan lengkap dengan peci. Yang biasanya tak bawa peci sekarang bawa. Yang biasanya tak bawa Quran sekarang bawa.
Saat pelajaran berlangsung, sampai masuk waktu Ashar, mereka pun ikut shalat berjamaah. Setelah shalat Ashar, semua santri duduk dengan rapi. Namun tak tampak satu pun puncak hidung dari empat sekawan ini. Padahal sepuluh menit lagi akan masuk pelajaran ilmu tajwid.
Harnias yang sadar akan hal itu, langsung bertanya kepada salah satu siswanya yang masih setia mengikuti pelajaran pada hari itu.
"Husen, si Enggar kama? Dafa, Reza, jo Raka, baa kok indak ado? Apo inyo kabur salasai sumbayang? ," Kata Hasniar.
"Iyo buk, si Enggar tadi nyo lari pakai sepeda, nan Reza, Dafa jo Raka ko kurang tahu kama anak-anak tu buk," tutur Husen.
Tanpa berfikir panjang, Hasniar pun memacu motornya menuju lapangan futsal. Jelas saja, tampak tiga orang se kawan ini, tengah bersiap-siap masuk lapangan. Hasniar pun memanggil mereka bertiga. Mereka yang tak sempat bersembunyi terpaku diam mendengarkan nasehat Hasniar.
"Indak salah ibuk doh kan, kalian disiko baanok-anok. Kini ikuik ibuk ka surau baliak. Lakek baju tu, naik motor ibuk, awak baliak ka surau. Guru kalian lah tibo,"ucap Hasniar.
Mereka pun mengikuti perintah Hasniar, dan mengikuti pelajaran sampai selesai.
Sebenarnya ke empat orang sekawan ini, walaupun nakal, mereka punya bakat yang menonjol dari yang lainnya. Seperti Reza yang bisa mengaji berirama. Seperti Enggar yang cepat tangkap dalam menerima pelajaran. Hanya saja kenakalan mereka ini, yang tak bisa dibendung.
Akhirnya setiap mereka tak ada di surau, ataukah cabut, pasti Hasniar mencarinya di lapangan futsal atau tidak di lapangan tempat anak-anak bermain layang-layang. Kalau bertemu Hasniar mereka akan bersembunyi, takut ketahuan terlambat mengaji gara-gara bermain.
Begitulah suka duka Hasniar sebagai guru mengaji bersama empat orang siswa yang nakalnya bukan main. (***)
Komentar
Posting Komentar