Rahasia Tertinggal Dibalik Bangku Belakang
Pria berseragam itu terus melajukan mobil hitamnya di antara barisan pohon sawit yang tumbuh rapat. Jalan yang dahulu berdebu dan berlubang kini telah berubah. Aspal hitam membentang panjang, lurus, hampir tanpa kelokan.
Ia masih mengingat jalan ini.
Sepuluh tahun lalu, belum ada aspal yang membentang sejauh ini. Pada musim kemarau, jalan itu berubah menjadi hamparan debu. Pada musim hujan, tanahnya menjelma lumpur yang menempel di sepatu dan ban kendaraan. Sedikit saja lengah, kendaraan bisa tergelincir, tubuh terhempas, dan seragam sekolah kotor oleh lumpur.
Banyak hal telah berubah.
Namun, ternyata tidak semuanya.
Pria itu tiba-tiba mengurangi kecepatan. Mobil hitamnya berhenti tepat di depan sebuah pagar besar.
Mesin dimatikan.
Ia turun dan berdiri beberapa saat tanpa bergerak.
Matanya tertuju pada pagar itu.
“Pagar ini masih sama,” bisiknya.
Cat putihnya telah mengelupas hampir seluruhnya. Warna abu-abu kusam menghiasi tembok dan pagar besi. Di bagian bawah, sisa cat kuning masih menempel tipis, seperti seseorang yang telah lama terluka, tetapi belum sepenuhnya kehilangan tanda bahwa ia pernah berwarna.
Pria itu melangkah mendekat.
Di balik pagar berdiri sebuah pohon tua.
Batangnya semakin besar dan kasar. Dahannya semakin rimbun, seolah waktu tidak hanya mengubah pohon itu, tetapi juga menitipkan begitu banyak kenangan pada setiap rantingnya.
Ia menatap pohon itu lama.
Kemudian tangannya menyentuh batangnya.
Dan tiba-tiba, waktu seperti berbalik.
---
Dahulu, pohon itu adalah tempat seorang bocah kecil menyelinap hampir setiap pulang sekolah.
Di sanalah ia memanjat ketika melihat sarang burung kecil di dahan paling ujung. Di sanalah ia duduk sendirian ketika merasa dunia terlalu ramai untuk kepalanya.
Anak itu memang berbeda.
Ia sulit diam.
“Rivan! Sedang apa kamu di sana, Nak?”
Ratna berteriak ketakutan ketika melihat muridnya memanjat pohon yang cukup tinggi.
“Turun!”
Ratna melambaikan tangan sambil berlari mendekat.
“Mau ambil sarang burung, Bu,” jawab Rivan.
“Untuk apa sarang burung?”
“Mau pelihara anak burungnya, Bu.”
Ratna menghela napas.
“Turun sekarang. Ayo, turun!”
Nada suara Ratna perlahan melembut.
Rivan akhirnya turun. Di tangannya, ia membawa sarang burung pipit beserta makhluk-makhluk kecil yang masih membuka paruh.
Ratna hanya bisa menggelengkan kepala.
Begitulah Rivan.
Selalu ada saja tingkahnya.
---
Ingatan masa kecil di atas pohon itu masih membayang di pikiran pria tersebut.
Kakinya kemudian melangkah menuju bangunan sekolah yang berjajar di hadapannya.
Bangunan itu tampak jauh berbeda.
Sepuluh tahun lalu, dua ruang kelas berdiri berdampingan. Dindingnya terbuat dari potongan kayu dan sisa tripleks yang disatukan dengan paku. Ketika hujan turun, tempias air akan membasahi dinding kayu. Kadang-kadang lantainya ikut becek.
Kini semuanya telah berubah.
Bangunan itu telah berdinding kokoh. Cat merah putih menghiasi bagian luarnya. Sebuah taman kecil yang indah tumbuh di depan kelas.
Di atas pintu tertulis:
*KELAS 5*
Pria itu masuk.
Matanya menyapu seluruh ruangan.
Kemudian pandangannya berhenti pada papan tulis.
Ia masih mengingat begitu banyak tempelan karya siswa yang dahulu memenuhi dinding dan papan kelas. Kini semuanya telah bersih. Cat putih mengilap memenuhi dinding.
Hanya foto presiden dan wakil presiden yang tergantung rapi.
Pandangannya kemudian beralih ke kursi paling belakang.
Kursi yang dahulu menjadi tempat paling nyaman jika bel sudah berbunyi.
Di sana, segala macam pelanggaran kelas bisa dilakukan.
Makan mi diam-diam.
Tidur di sela-sela pelajaran.
Mengganggu teman.
Atau menembakkan karet gelang ke kepala kawan tanpa diketahui.
Pria itu tersenyum kecil.
Namun senyum itu perlahan menghilang ketika ingatan masa lalu kembali memenuhi kepalanya.
---
Di kursi paling belakang itu, seorang anak kecil berusia dua belas tahun duduk sambil diam-diam mengutak-atik karet gelang.
Matanya memperhatikan teman yang duduk di depannya.
Tangannya menarik karet gelang.
Ia membidik.
Lalu—
“Plak!”
Karet itu mendarat keras di rambut Sayat.
“Aduh! Sakit!”
Sayat langsung menoleh.
Matanya mencari pelaku.
Kemudian telunjuknya mengarah kepada Rivan yang tengah pura-pura membolak-balik buku.
“Bu! Kepala saya dijepret karet sama Rivan!”
Ratna yang sedang memberikan soal matematika terkejut.
“Ada apa itu? Ribut-ribut di belakang?”
Ratna mengambil sebuah penggaris kayu dari atas meja.
“Rivan, Bu!”
“Rivan yang jepret!”
“Rivan, Bu!”
Suara seluruh murid bersahutan.
Kelas seketika gaduh.
Ratna menghampiri Rivan.
“Rivan, benar kamu?”
Rivan menggeleng.
“Tidak, Bu.”
Ratna menatapnya.
“Kamu yakin?”
Rivan tetap diam.
Setelah Ratna memberikan arahan dan nasihat, kelas kembali tenang.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
“Asyiah!”
Tiba-tiba seorang anak menjerit.
“Rivan narik rambut saya!”
Belum selesai satu masalah, Ari sudah berdiri dari tempat duduknya.
“Bu, pulpen saya hilang. Disembunyikan Rivan.”
Ratna memejamkan mata sejenak.
Ia menarik napas panjang.
Rivan memang seperti tidak pernah kehabisan cara untuk membuat kelas gaduh.
Kalau tidak mengacak-acak tas, ia mengganggu teman.
Kalau tidak menyembunyikan barang milik kawannya, ia berlari-lari di dalam kelas.
Ia tertawa ketika kelas sedang serius.
Ia membuat teman-temannya kesal, tetapi sering kali ia sendiri tidak benar-benar memahami mengapa tangannya selalu bergerak melakukan sesuatu.
Pernah suatu hari, lima ekor anak burung pipit kecil dimasukkannya ke dalam tas.
Beberapa menit kemudian, kelas tiba-tiba gaduh.
Suara burung bersahut-sahutan dari suatu tempat.
Ratna kebingungan mencari sumber suara.
Setelah dicari, ternyata suara itu berasal dari dalam tas Rivan.
“Rivan!”
Anak itu hanya tersenyum.
“Kenapa burungnya dibawa ke sekolah?”
“Mereka sendirian, Bu.”
Ratna tidak tahu harus marah atau tertawa.
Rivan memang anak yang berbeda.
Tangannya lebih cepat bergerak daripada pikirannya.
Ia sering melakukan sesuatu sebelum sempat memikirkan akibatnya.
Guru sering memanggilnya.
Orang tuanya sudah tidak terhitung berapa kali diminta datang ke sekolah.
Nasihat datang berkali-kali.
Teguran datang silih berganti.
Namun semakin banyak orang mengatakan dirinya nakal, semakin lama ia mulai percaya bahwa mungkin memang hanya itu dirinya.
Anak nakal.
Anak pembuat masalah.
Anak yang namanya lebih sering disebut ketika terjadi keributan daripada ketika melakukan sesuatu yang membanggakan.
Lama-lama ia tidak lagi bertanya,
“Mengapa aku melakukan ini?”
Ia mulai bertanya,
“Mengapa tidak ada yang menyukaiku?”
Tidak banyak orang tahu bahwa anak itu pernah menangis sendirian.
Bukan karena dimarahi guru.
Bukan karena dihukum.
Tetapi karena pernah dipukul seorang dewasa hingga tubuh kecilnya babak belur.
Ia pulang membawa rasa sakit yang bahkan tidak tahu bagaimana harus diceritakannya.
Ia tidak tahu kepada siapa harus mengadu.
Ia hanya tahu bahwa sejak hari itu, ada sesuatu di dalam dirinya yang berubah.
Ia menjadi lebih waspada.
Lebih mudah takut.
Lebih mudah menyerang sebelum diserang.
Seolah-olah tubuh kecilnya telah belajar satu hal:
Kalau ingin selamat, jangan pernah terlihat lemah.
Maka ia berlari.
Ia membuat keributan.
Ia mengganggu orang.
Ia melawan.
Ia tertawa bahkan ketika sebenarnya ingin menangis.
Barangkali orang-orang hanya melihat kenakalannya.
Tetapi tidak banyak yang melihat ketakutannya.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik anak yang suka mengganggu itu, sebenarnya ada seorang anak yang sedang berteriak dalam diam,
“Tolong jangan sakiti aku lagi.”
Hanya saja, ia tidak tahu bagaimana cara mengatakannya.
---
Suatu hari, Rivan kembali memanjat pohon itu.
Entah apa yang dicarinya.
Mungkin sarang burung.
Mungkin hanya tempat untuk bersembunyi.
Atau mungkin ia memang hanya ingin berada di tempat yang jauh dari keramaian.
Namun kali itu, ia kehilangan pijakan.
Tubuh kecilnya terhempas ke tanah.
Tangisnya pecah.
Orang-orang berlari menghampirinya.
Untuk beberapa saat, Rivan hanya menangis.
Bukan hanya karena tubuhnya sakit.
Mungkin juga karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa ada orang yang datang ketika dirinya terluka.
Ia tidak sedang dimarahi.
Tidak sedang disebut nakal.
Tidak sedang ditanya apa kesalahannya.
Ia hanya sedang ditolong.
Ratna berjongkok di sampingnya.
“Sudah, Nak. Menangis saja kalau sakit.”
Rivan terus menangis.
Ratna mengusap kepalanya.
“Kamu tidak apa-apa. Ibu di sini.”
Kalimat itu sederhana.
Namun bagi seorang nak yang terlalu lama merasa harus melindungi dirinya sendiri, kalimat itu mungkin terdengar seperti rumah.
Ibu di sini.
Mungkin sejak saat itulah sesuatu yang kecil mulai tumbuh di dalam dirinya.
Bahwa tidak semua orang dewasa datang untuk menyakiti.
Bahwa tidak semua teguran berarti kebencian.
Bahwa mungkin masih ada orang yang mau memahami.
Rivan tidak berubah dalam sehari.
Ia masih pernah berbuat salah.
Masih pernah mengganggu.
Masih pernah membuat kelas gaduh.
Namun perlahan ia mulai belajar berhenti.
Belajar meminta maaf.
Belajar mendengarkan.
Belajar bahwa dirinya tidak harus terus-menerus berkelahi dengan dunia.
Pelan-pelan, sekolah tidak lagi terasa seperti tempat yang selalu menunggunya melakukan kesalahan.
Ia mulai menikmati belajar.
Mulai berani bermimpi.
Suatu hari, seorang guru bertanya,
“Kalau sudah besar, kamu mau jadi apa?”
Rivan menjawab tanpa ragu,
“*Tentara.*”
“Mengapa tentara?”
Rivan diam sebentar.
Kemudian menjawab,
“Biar bisa melindungi orang, Bu.”
Jawaban itu sederhana.
Namun bagi Rivan, tentara bukan sekadar pekerjaan.
Ia ingin menjadi seseorang yang kuat.
Seseorang yang datang ketika orang lain sedang ketakutan.
Seseorang yang melindungi, bukan menyakiti.
Ia ingin menjadi orang yang berbeda dari sosok yang pernah membuatnya takut.
---
Pria itu masih berdiri di dalam kelas.
Tangannya menyentuh meja paling belakang.
Ia menatap goresan kecil yang masih samar terlihat di permukaannya.
Dahulu, ia pernah mengukir satu huruf di meja itu.
Huruf *R*.
Ia tersenyum.
Kemudian mengusap matanya.
Sepuluh tahun.
Sepuluh tahun ternyata tidak cukup untuk menghapus kenangan.
Ia berjalan keluar kelas.
Di halaman, langkahnya terhenti.
Matanya kembali tertuju pada pohon tua itu.
Pohon yang dahulu menjadi tempat seorang anak memanjat.
Pohon yang pernah menjadi tempat ia bersembunyi.
Pohon yang juga menjadi saksi ketika seorang guru berlari menghampirinya setelah ia terjatuh.
Pria itu tersenyum.
Kemudian mengambil sesuatu dari saku seragamnya.
Sebuah foto lama.
Foto seorang anak laki-laki dengan seragam sekolah yang terlalu besar.
Di sampingnya berdiri seorang perempuan muda.
Ratna.
Ia menatap foto itu lama.
Kemudian memasukkannya kembali ke dalam saku.
Sebelum pergi, ia bertanya kepada seorang guru yang sedang berdiri di halaman.
“Bu Ratna masih di sini?”
Guru itu tersenyum.
“Bu Ratna sudah pensiun.”
Pria itu mengangguk.
“Rumahnya masih di sekitar sini?”
“Masih.”
Ia kemudian meminta alamatnya.
---
Sore mulai turun ketika pria itu tiba di sebuah rumah sederhana.
Di halaman depan, seorang perempuan tua sedang menyiram bunga.
Rambutnya telah dipenuhi uban.
Tubuhnya tidak lagi setegap dulu.
Tetapi wajah itu masih sama.
Pria itu berdiri di depan pagar.
Untuk beberapa detik ia hanya diam.
Perempuan itu menoleh.
“Cari siapa, Nak?”
Pria itu tersenyum.
“Bu…”
Ratna memperhatikannya.
Wajah pria itu terasa begitu akrab.
Tetapi ingatannya belum mampu menemukan nama yang tepat.
“Ya?”
Pria itu membuka pagar perlahan.
“Maaf, Bu. Saya boleh masuk?”
“Tentu.”
Ia melangkah mendekat.
Ratna masih memandanginya.
“Sepertinya Ibu pernah melihat kamu.”
Pria itu tersenyum.
“Bukan hanya pernah melihat, Bu.”
Ratna mengernyitkan dahi.
“Ibu pernah sangat sering memanggil nama saya.”
Ratna terdiam.
Pria itu kemudian menatap pohon mangga di samping rumah.
“Bu masih suka marah kalau ada anak yang naik pohon?”
Ratna semakin bingung.
Pria itu melanjutkan.
“Masih ingat anak yang pernah membawa lima ekor anak burung pipit ke dalam kelas?”
Mata Ratna tiba-tiba membesar.
Bibirnya bergetar.
“Rivan?”
Pria itu tersenyum.
“Iya, Bu.”
Ratna menatapnya lama.
Kemudian kedua tangannya menutup mulut
“Ya Allah…”
Air mata mulai menggenang.
“Rivan?”
“Iya, Bu.”
Ratna mendekat.
Tangannya menyentuh wajah pria itu.
Seolah-olah ingin memastikan bahwa anak yang dahulu selalu membuatnya pusing itu benar-benar telah berdiri di hadapannya.
“Ya Allah, Rivan…”
Kemudian Ratna memeluknya.
Pria itu membalas pelukan tersebut.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Hanya tangis yang terdengar.
Tangis seorang guru yang akhirnya melihat murid yang dahulu sering membuatnya kewalahan.
Dan tangis seorang murid yang akhirnya bisa kembali kepada orang yang pernah membuatnya merasa aman.
“Kamu ke mana saja, Nak?”
“Banyak tempat, Bu.”
“Sekarang kerja di mana?”
Pria itu tersenyum.
“Masih belajar menjadi orang baik, Bu.”
Ratna tertawa kecil di antara air matanya.
“Dari dulu Ibu tahu kamu bisa.”
Kalimat itu membuat Rivan terdiam.
Ia menundukkan kepala.
“Bu…”
“Ya?”
“Dulu saya sering bikin Ibu malu.”
Ratna tersenyum.
“Sering.”
“Saya sering bikin Ibu dipanggil orang tua.”
“Iya.”
“Saya sering berbohong.”
“Iya.”
“Sering mengganggu teman.”
“Iya.”
“Pernah bawa burung ke kelas.”
Ratna tertawa.
“Lima ekor.”
Rivan ikut tertawa.
Tetapi beberapa detik kemudian, wajahnya kembali serius.
“Bu…”
“Hmm?”
“Waktu saya jatuh dari pohon itu…”
Ratna menatapnya.
“Ibu masih ingat?”
“Mana mungkin Ibu lupa?”
Rivan menarik napas panjang.
“Waktu itu saya pikir semua orang membenci saya.”
Ratna diam.
“Saya pikir saya memang anak nakal.”
Suaranya mulai bergetar.
“Saya pikir saya tidak akan menjadi apa-apa.”
Ratna menggenggam tangannya.
“Tapi waktu saya jatuh, Ibu datang.”
“Ya, karena kamu murid Ibu.”
Rivan menggeleng.
“Bukan itu, Bu.”
Air matanya jatuh.
“Waktu itu Ibu bilang…”
Ia berhenti.
Kemudian menatap mata gurunya.
“Kamu tidak apa-apa. Ibu di sini.”
“Saya ingat kalimat itu sampai sekarang.”
Ratna mulai menangis.
“Saya tidak tahu, Bu, ternyata kalimat sesederhana itu bisa membuat seorang anak bertahan begitu lama.”
Ia mengusap wajahnya.
“Waktu itu saya sedang takut sekali. Saya tidak tahu harus percaya kepada siapa.”
Ratna menggenggam tangannya semakin erat.
“Tapi Ibu membuat saya percaya bahwa masih ada orang dewasa yang tidak akan menyakiti saya.”
Ratna tidak mampu berkata-kata.
Rivan kemudian berdiri tegak.
Ratna memperhatikan seragam yang dikenakannya.
Barulah ia benar-benar menyadari.
Seragam loreng.
Sepatu hitam.
Rambut pendek.
Sikap tubuh yang tegap.
Di dada seragam itu terpasang sebuah nama.
"RIVAN."
Ratna menatapnya.
Kemudian tersenyum sambil menangis.
“Jadi… cita-citamu dulu…”
Rivan mengangguk.
“Masih ingat, Bu?”
“Bagaimana mungkin Ibu lupa?”
Rivan berdiri tegak di hadapannya.
Anak yang dahulu selalu berlari ketika dipanggil kini berdiri diam.
Tidak melawan.
Tidak bersembunyi.
Tidak membuat keributan.
Ia hanya berdiri di hadapan gurunya.
Kemudian tangannya terangkat memberikan hormat.
Ratna tertegun.
“Untuk apa itu?”
Rivan tersenyum.
“Dulu Ibu mengajari saya bagaimana menjadi orang yang kuat.”
Ratna menatapnya.
“Tapi bukan kuat untuk melawan orang lain,” lanjut Rivan.
“Lalu?”
“Untuk melindungi.”
Ratna kembali menangis.
Rivan menurunkan tangannya.
“Terima kasih, Bu.”
Ratna mengusap kepalanya seperti dahulu.
“Tidak perlu berterima kasih.”
“Perlu, Bu.”
Rivan tersenyum.
“Karena kalau dulu Ibu hanya melihat saya sebagai anak nakal…”
Ia berhenti.
Suaranya pecah.
“…mungkin saya tidak akan pernah tahu bahwa saya sebenarnya bisa menjadi baik.”
Ratna memeluknya kembali.
Di halaman rumah sederhana itu, seorang guru tua memeluk muridnya yang telah tumbuh dewasa.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada perayaan.
Tidak ada yang tahu perjalanan panjang seorang anak yang dahulu dianggap merepotkan itu.
Hanya mereka berdua.
Dan kenangan tentang seorang anak yang pernah duduk di kursi paling belakang, mengganggu teman-temannya, memanjat pohon, membawa burung ke kelas, dan berkali-kali membuat gurunya menghela napas.
Anak itu memang pernah nakal.
Namun mungkin, yang paling ia butuhkan bukanlah seseorang yang terus mengatakan bahwa dirinya nakal.
Ia hanya membutuhkan seseorang yang mau melihat lebih jauh.
Seseorang yang mau bertanya:
Apa yang sebenarnya terjadi padamu?
Bukan hanya:
Apa yang sudah kamu lakukan?
Dan Bu Ratna pernah menjadi orang itu.
Sebelum pulang, Rivan kembali menatap gurunya.
“Bu…”
“Ya?”
“Kalau nanti saya pergi lagi, boleh saya datang ke sini kapan-kapan?”
Ratna tersenyum.
“Rumah ini selalu terbuka untukmu.”
Rivan mengangguk.
Ia berjalan menuju mobil.
Baru beberapa langkah, Ratna memanggil.
“Rivan!”
Ia menoleh.
“Jangan lupa…”
Ratna tersenyum.
“Kalau suatu hari kamu bertemu anak nakal, jangan buru-buru membencinya.”
Rivan terdiam.
Matanya berkaca-kaca.
“Iya, Bu.”
“Bisa jadi dia hanya sedang mencari seseorang yang mau memahaminya.”
Rivan mengangguk.
Kemudian tersenyum.
“Iya, Bu. Saya mengerti.”
Ia masuk ke dalam mobil.
Mesin dinyalakan.
Mobil perlahan meninggalkan halaman.
Ratna berdiri di depan pagar, melambaikan tangan.
Dari balik kaca mobil, Rivan terus menatap perempuan itu.
Semakin jauh.
Semakin kecil.
Namun kenangan tentangnya justru semakin besar.
Mobil itu kembali menyusuri jalan yang kini telah beraspal.
Jalan yang sepuluh tahun lalu penuh debu dan lumpur.
Di kaca spion, sekolah itu perlahan menghilang.
Namun Rivan tahu, ada satu bagian dari dirinya yang akan selamanya tinggal di sana.
Seorang anak laki-laki yang pernah dianggap nakal.
Seorang anak yang pernah takut.
Seorang anak yang pernah merasa tidak disukai siapa pun.
Dan seorang guru yang memilih untuk tidak menyerah kepadanya.
Barangkali hidup memang tidak selalu membutuhkan banyak orang untuk mengubahnya.
Kadang-kadang, cukup satu.
Satu guru.
Satu pelukan.
Satu kalimat sederhana:
“Kamu tidak apa-apa. Ibu di sini.”
Kalimat yang mungkin bagi orang lain tidak berarti apa-apa.
Tetapi bagi seorang anak yang pernah merasa sendirian, kalimat itu bisa menjadi alasan untuk tetap bertahan.
Dan sepuluh tahun kemudian, anak itu kembali.
Bukan untuk membuktikan bahwa ia telah menjadi hebat.
Bukan pula untuk menunjukkan bahwa ia telah berhasil.
Ia hanya ingin memastikan bahwa perempuan yang dahulu percaya kepadanya tahu satu hal, anak yang dulu selalu membuatnya khawatir itu akhirnya menemukan jalan pulang.
Dan di antara deru mobil yang semakin menjauh, Rivan tersenyum sambil menyeka air mata.
Untuk pertama kalinya, ia tidak malu menangis.
Komentar
Posting Komentar