Daerah Istimewa Minangkabau

Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah

Penampakan Pasarraya Kota Padang, Sumatera Barat

Kalau bercerita soal keistimewaan di daerah Minangkabau, tentu sangat banyak ragam, keunikan dan aturannya. Bahkan kentalnya adat tersebut masih dilestarikan secara turun temurun oleh masyarakat Minang.

Perihal semboyan "Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah," sangat lekat dengan masyarakat Minang. Sehingga orang Minang, memang betul mengerti segala hal aturan dan tata cara hidup berpedoman kepada Alquran dan Sunnah Rasul. 

Kalau berbicara soal pengetahuan agama, jangan ditanya lagi, orang Minang paham betul petuah-petuah keagamaan. Sebab sejak usia dini, anak-anaknya sudah diajarkan untuk berkenalan dengan surau. "Ketek-ketek lah baraja mangaji,". Bahkan orang tua zaman dahulu pun, setiap anaknya selesai shalat maghrib berjamaah, pasti diajarkan baca ikra'. 

Saya pun demikian. Saat itu masih usia lima tahun, diwajibkan selesai shalat maghrib baca ikra'. 

Kami itu bertiga orang, saya paling kecil. Jadi ketiga-tiganya baca ikra' sesuai "banyak kaji nan dihafal,". Memang awalnya terasa berat, tapi karena pembawaan dari cara orang tua mengajarkan, lebih terasa menyenangkan. 

Makanya, jangan terkejut kalau siswa kelas satu Sekolah Dasar di kampung saya, sudah banyak yang bisa baca Quran. Kalau saya, naik level Quran nya pas kelas dua SD. Jadi masuk madrasahnya umur lima tahun lebih. Sebab rata-rata anak-anak di kampung saya mulai belajar mengaji umur segitu. 

Kendatinya, saat umur 4 tahun, saya sudah bisa baca ikra'. Karena pada pendidikan TK yang ditempuh pada usia tersebut, sudah memperkenalkan tentang huruf hijaiyah. Jadi memang dari kecil itu, kami sudah kenal dengan ikra' dan surau, walaupun belum paham dengan huruf abjad. Kalau dibilang, kami ini lebih mudah menghafal huruf hijaiyah dibandingkan huruf alfabet.

Saya lanjutkan cerita, tentang wara wiri jelang naik level Al Quran. Sebelum kami menamati ikra' saat di TPQ Mushalla Tarbiyatul Ihsan Koto dahulu. Kami itu dipastikan harus hafal 29 huruf hijaiyah tanpa melihat ikra'. Untuk mempermudah menghafalnya, guru yang kami panggil "uniang" ini menyiapkan lagu khusus, sehingga kami dengan mudah bisa melafazkannya.

Kemudian syarat berikutnya untuk naik level Quran, harus bisa praktik shalat dan hafal "buah sumbayang dan doa Qunut," Kalau semua itu sudah tuntas, maka besok kami sudah Alquran. Lantas, bagaimana dengan yang belum hafal? Rata-rata sudah hafal, sebab kami itu, setiap hari Kamis nya selalu praktik shalat dan belajar bacaan shalat atau "Buah Sumbayang" begitu sebutan guru kami.

Kira-kira seperti itulah gambaran kemesraan kami dengan surau dan mengaji diwaktu usia 5 tahun sampai usia remaja. Memang betul-betul kental fungsi surau bagi kami. 

Kalau lah hari besar islam datang, kami  santri TPQ pasti sibuk latihan untuk mengisi acara. Apapun bentuk acara di Mushalla, kami pasti ikut. Jadi memang betul terasa pentingnya peran surau bagi kami. 

Ketika menginjak remaja, saat mulai duduk di bangku SMP dan SMA, jadwal mengaji tak lagi siang tapi pada malam hari, habis shalat Isya, masih dengan guru yang sama, namun pelajarannya lebih mendalam lagi. Untuk membaca Alqurannya tetap sama yaitu, melanjutkan level bacaan dari Sekolah Dasar. Jadi surau itu betul-betul melekat kental di hati kami. Kalau pun nanti kami merantau, ataupun memiliki perilaku, "Kurang bataratik," karena pada waktu itu berada dimasa kenakalan atau masa pubertas, tetap ujung-ujungnya kembali ke surau. 

Kalau ibaratkan pondasi, "Kami ko alah mulai kuek manopang tiang,". 

Kondisi seperti itu pun sampai sekarang masih terus berkembang. Orang tua berduyun-duyun mendaftarkan anaknya yang masih usia dini untuk masuk TPQ atau MDTA. Bagi orang tua, "Labih malu anaknyo buta huruf Alquran dari pado buta huruf abjad,". Begitu gambaran pentingnya mengaji di kampung saya. 

Lalu bagaimana dengan psikologi dari anak-anak ketika diajak dan dikenalkan dengan surau? Ketika itu, anak-anak yang belum paham tentang pentingnya mengaji, menjadikan surau itu sebagai ajang untuk bertemu kawan-kawan, atau sekedar jadi tempat untuk bersembunyi dan berlari-larian bersama puluhan temannya. 

Saya masih ingat waktu dahulu, ketika kolam kosong di belakang surau, kami jadikan tempat bermain kejar-kejaran. Sampai-sampai rok seragam mengaji sobek. Sudah itu, ketika senior berteriak menginfokan kalau anak ikra' dan Alquran masuk. Maka dengan sigap kami berdorong-dorongan masuk ke surau. Baju sudah basah oleh keringat, ditambah lagi bau badan, kalau guru kami bilang "karingek kami baun Kapindiang". 

Rutinitas seperti itu menjadikan surau semakin menyenangkan buat kami. Sebab selain belajar, Kami pun bisa berkumpul dan bermain. Bahkan kalau guru belum datang, anak-anak sering menjadikan ruangan surau itu menjadi tempat bermain, kejar-kejaran. Kalau guru sudah datang maka salah satu dari kawan akan menyahut dengan nyanyian,"uniang tibo, mambaok lado, agak sakilo," seketika itu kami langsung duduk dengan rapi. 

Yang ramai itu, kalau sudah bulan ramadhan, surau itu akan dipenuhi oleh anak-anak TPQ atau MDTA. Bagi kami, sudah jadi kewajiban untuk ke surau setiap bulan ramadhan, mengikuti shalat Isya berjamaah, shubuh berjamaah, ashar, kalau maghrib biasanya berbuka di rumah. Nah kalau tarwih dan witir ini, biasanya untuk santriwan dan santriwati yang terkenal patuh dan teladan saja. Kebetulan saya tak golongan itu. Saya lebih ke golongan santriwan dan santriwati yang suka main kejar-kejaran di halaman surau. Kalau tidak mengganggu kawan yang sedang serius melaksanakan shalat tarwih  atau tidak makan kue di depan surau. Tapi kalau ketahuan guru, pasti disuruh shalat dekat beliau. Malas tak malas terpaksa ikuti perintah, walaupun mengantuk sampai ketiduran pas saat sujud. Bagi kami guru itu memang sangat dihargai. Bahkan kalau berpapasan dengan guru pasti salam, itu  spontan hati nurani yang menyuruh. Memang begitu pengajaran kepada kami yang diajarkan di surau. 

Itu lah salah satu kentalnya adat istiadat bidang keagamaan di Minangkabau terutama di nagari saya. (***) 

Komentar

postingan populer