Belajar Dari Sabarnya Petani
Kalau dibilang iba, tentulah iba, namanya juga gagal panen, berharap kalau hasil gemilang, minimal bisalah buat beli genteng, soalnya genteng rumah sudah lama bocor, atau beli lantai granit, yang sudah bertahun-tahun diimpikan, atau buat kamar mandi sekalian ada toiletnya, khusus dekat rumah, toh selama ini buang air besar dan mandi di sungai, karena belum mampu membangun toilet.
Bisa juga barangkali ada lamaran jodoh datang, sudah menetapkan hari, tinggal pesta pernikahan saja lagi, acara diadakan selesai panen, harap-harap cemas agar biaya perhelatan bisa dibayar pakai hasil panen, rupanya panen gagal, terpaksa berhutang dahulu, nanti dipanen berikutnya baru bayar, itupun kalau tak gagal panen lagi.
Tapi petani tak boleh sedih, apalagi marah, harus yang sabar. Sebab inikan cobaan, karena hidup harus diuji, agar bisa lebih bijaksana, kan begitu.
Kalau ingin mengadu, tentunya mengadu kepada Tuhan, bukan kepada manusia, karena ini cobaan, jadi mesti bersabar, tapi yang betul-betul sabar, jangan nanti sabarnya karena terpaksa, sebabkan tak tahu lagi akan bagaimana, harus ikhlas, walau sudah berusaha.
Kalaupun nanti tak bisa bayar perhelatan karena gagal panen, boleh lah diundur selang beberapa waktu dahulu acaranya. Jangan dipaksa harus sekarang, namanya juga kena musibah, takut-takut terlilit hutang kan bingung, mau bayar bagaimana, beruntung kalau ada uang penghasilan, kalau tak ada, dan cuma harap panen, bagaimana?
Jadi memang betul harus bersabar . Walau belum ada bantuan, tetap juga bersabar, sebab siapa lagi yang bisa diandalkan kalau bukan diri sendiri dengan memohon kepada Tuhan, walaupun penuh sesak, walaupun merugi, ya petani tetap bersabar, besok kan bisa bertanam lagi.
Ternyata memang bertulkan, namanya juga petani pasti cepat move on nya, hari ini gagal, besok pasti dicoba lagi untuk bertanam padi, beda dengan menanam cinta, hari ini patah hati, besok tak ingin bersama lagi.
Komentar
Posting Komentar