BOCAH PENJUAL ES
Seketika bocah berusia 11 tahun itu tertegun melihat kawan sebayanya mengenakan seragam merah putih berlambang dinas pendidikan. Dia berjalan diantara desakan para siswa, tak ada senyum yang dibiaskan dari bibirnya. Ekspresinya yang datar, membuat pilu orang-orang yang melihat. Ia gandeng sang adik sembari membawa termos es berukuran kecil, lalu melangkah gontai di sekitar kerumunan tersebut. Ia jajakan dagangannya di sekitar lingkungan.
"Es, es, es, es es es es, cuma 2000 rupiah, es segar,"teriaknya berulang-ulang, sampai terdengar suara serak dr kerongkongannya.
Dengan nafas tersengal-sengal dia terus berteriak menjajakan dagangan, tanpa peduli dengan suaranya yang hilang timbul, sayangnya belum juga satu pun yang berminat untuk membeli. Dagangan yang awalnya berjumlah 30 bungkus, sekarang masih tersisa 20 bungkus. Enggan rasanya untuk pulang jika jualan itu belum habis, sebabkan kebutuhan keluarga nya memang berasal dari keuntungan penjualan tersebut. Akhirnya bocah perawakan tirus itu duduk di bawah pohon besar dekat gerbang sekolah dengan memeluk sang adik, sedangkan termos es itu ia letakkan di atas meja kecil dekat pohon tersebut. Bocah kecil itupun mulai mengamati murid yang berlalu lalang ketika jam istirahat.
Hatinya berdetak, sesaat seorang anak laki-laki bertubuh kecil berpakaian rapi dengan dasi merah yang sedikit miring ke kiri menghampiri nya,"Saya mau beli es nya dua ya bang," sembari menyodorkan uang kertas Rp 5 ribu. Seketika dua bungkus es tersebut telah berpindah tangan.
"Abang gak sekolah,"ujar anak laki-laki itu, sambil merogoh kantong celananya, mengeluarkan satu robot kecil, kemudian menyodorkannya kpd sang adik. Mendengar ucapan itu, tak ada satu katapun yang keluar dr mulutnya, kecuali dengusan dan senyum tipis dengan wajah sendu. Bahkan mengucapkan terimakasih saja lidahnya sudah kelu apalagi merespon ucapan anak tersebut. Tak lama sepeninggal anak laki-laki itu, ia pun kembali ke peraduan dengan menggandeng sang adik yang baru berusia 8 tahun.
Tiba-tiba hatinya kembali sesak, entah karena dagangannya belum laris atau karena ucapan anak laki-laki tadi. Entahlah, ia tak berani berharap tentang apapun yang tak mungkin sanggup digapai.
Di saat anak-anak seusianya punya cita-cita menjadi guru, pilot, insinyur, arsitek, polisi,tentara, dia dengan termos es nya hanya bisa bermenung, karena baginya cita-cita itu hanya untuk anak yang berseragam saja, yang kebutuhan makannya sdh tercukupi, sdgkan dia jangankan memakai baju seragam,untuk makan saja susah.
Setengah jam sudah berlalu, ia masih saja terpana-pana melihat murid-murid berlalu lalang di jalan setapak itu. Padahal jauh dari hati kecilnya ia juga ingin belajar berhitung dan membaca, tapi apa daya orang tuanya tak mampu membiayainya, belum lagi setiap hari dia harus berjualan untuk memenuhi kebutuhan, yang entah sampai kapan akan berakhir. Kalau bukan dia siapa lagi, mengingat adik-adiknya yang masih kecil-kecil.
Matahari sudah di atas kepala, ia mulai meringsut menuju jalan raya, melewati segerombalan siswa dasar yang baru saja pulang, tanpa melihat kanan kiri, ia berhasil melewati kerumunan tersebut, seketika adiknya berujar," Bang, adek nak pengen juga sekolah, seperti abang-abang di sana,"sembari menunjuk ke arah kerumunan itu. Seketika hatinya terasa tercabik, ia tahan bola mata agar air tak mengalir di sekitar kantung Lakrimalis nya.
Komentar
Posting Komentar