Teknik Me- Request Hantu


    Rainir selalu saja diganggu hantu, dimanapun dia berada. Kalau pergi ke pasar, ia melihat sosok makhluk hitam yang bertengger di gedung tua dekat penjual plastik kiloan itu. Kalau dia pergi ke toilet dekat lapangan voli, ia melihat  hewan bertubuh besar dengan mata terbelalak selalu mengamati gerak-geriknya. Yang paling menyeramkan di gang rumahnya, ada kuntilanak duduk di atas kursi kayu depan halaman rumah pak RW. Konon katanya dahulu tanah tempat kursi itu berada adalah kuburan seorang perempuan yang meninggal saat hamil, gara-gara di bunuh suaminya. Entah iya entah tidak, tapi kata buyutnya begitu. Sudah seperti kisah film saja. 

Pernah suatu waktu Rainir pergi ke sebuah surau tua. Di surau itu sejumlah anak-anak tengah belajar membaca Alquran bersama seorang perempuan muda yang notabennya adalah sang guru. Tapi satu dari muridnya tiba-tiba berlari, sambil menyahut, "ada tuyul, ada tuyul," seketika bocah 12 tahun itu langsung mengejar makhluk tersebut sampai ke ladang pisang dekat surau tua itu. 

Sontak saja kondisi itu membuat sang guru cemas, akhirnya dia mengikuti si murid, sambil berteriak memanggil-manggil, "Tandan.. Jangan kau kejar tuyul itu, sini balik ke surau, nanti kau dibawa ke hutan, sini cepat," sorak sang guru yang sudah kelelahan mengejar Tandan nama murid yang biasa dia panggil. 

"Tapi tuyul ini mengejek buk, bikin kesal saja. Kalau dapat mau aku pukul, "

" Sudahlah, ayo sini, nanti kawan-kawan menunggu lama,"bujuk sang guru. 

Akhirnya berkat kegigihan sang guru, Tandan pun bisa dikejar, dan sang guru menasihatinya. "Kalau kamu mengejar si tuyul tadi, berarti dia menyuruh kamu untuk tidak usah mengaji, berarti dia itu adalah golongan jin jahat yaitu iblis yang suka menggoda manusia, kamu ingat kan ibu pernah menjelaskan tentang surat An-nas. Kalau kamu paham itu jangan mau diajak tuyul, iblis, dan sejenisnya. Ibu memang tak lihat tapi kamu jangan pernah begitu, paham!

Tandanpun mengangguk. Lalu ia kembali dan bergabung bersama kawan - kawan. Peristiwa itu disaksikan langsung oleh Rainir,memang betul dengan matanya sendiri Rainir menyaksikan tuyul itu menggoda Tandan, mengajaknya kejar-kejaran.

Seperti halnya Rainir, bocah itu pun juga bisa melihat. 

Setelah selesai shalat ashar, Rainir pun sempat bercengkrama dengan Nubawi, guru muda tadi yang usianya lebih muda dua tahun dari Rainir yang masih berusia 31 tahun. "Memangnya sering anak-anak diganggu hantu di dekat sini?," ujar Rainir memulai percakapan. 

"Tak sering, tapi pernah. Seperti beberapa minggu yang lalu, ada murid saya yang sakit, gara-gara melihat nenek tua di ruang kelas sebelah kamar keranda mayat, dekat gudang surau. Esoknya murid itu libur, saya tanya, kenapa begitu, katanya dia disapa roh halus, tapi saya rasa murid saya ini mengigau, "

"Oh begitu, memangnya surau ini, sebelumnya lahan apa?, "tanya Rainir penasaran. 

"Oh ini dulu hutan. Kalau ladang pisang tempat si Tandan berlarian tadi adalah rawa, "jawab Nubawi. 

"Oh begitu, kalau saya boleh saran, tak usah lah murid-murid bermain di sekitar ladang pohon pisang itu, kalau bisa dihindari biar tak diganggu makhluk lain lagi, "saran Rainir yang langsung berpamitan. Perempuan itu pun mengangguk tersenyum. 

Sebenarnya Rainir bukan hanya melihat tuyul di sana, di kejauhan ia juga melihat ada bayi bergelantungan di atap rumah tua dekat surau itu. Hatinya membathin," mana mungkin ada bayi manusia yang bergelantungan di sana, bisa saja itu iblis berwujud bayi, "diapun menduga-duga. 

Sepulang dari surau tersebut, seperti biasa ia lewat gang kecil. Untung saja belum maghrib, jadi dia tak bersua dengan kuntilanak yang biasanya duduk sembari melolototkan mata kepada orang yang berlalu lalang. Rainir yang memang bisa menyaksikan hal itu, terkadang timbul rasa jahilnya melempar batu ke arah si hantu, sontak saja tak ada respon. 

Rainir selalu bertanya-tanya, kenapa hantu di Indonesia berbeda dengan hantu di luar negeri? Kalau di lingkungannya sendiri, ia sering bersua pocong, kuntilanak, tuyul dan makhluk aneh lainnya. Bahkan ada warga yang selalu diganggu oleh pocong dekat jembatan tua yang di bawahnya ada aliran sungai. Dengan berbagai mitos di sana. Ada yang bilang disitu dahulu ada pembunuhan, ada pula yang menemukan mayat dan Lain-lain. Entah itu benar atau tidak.

"Rainir, kalau sudah lewat pukul 8 malam, tak usah lah kau melewati jembatan itu,tak ada warga yang berani lewat sana, si Rabaah warga baru itu pernah diganggu pocong pas lewat. Kau kan sudah tahu ceritanya, "ujar Ujang yang rumahnya tak jauh dari jembatan tersebut. 

Rainir hanya tersenyum dan mengangguk, dia mana pernah takut akan hal demikian, toh kehidupannya sudah sering bersua dengan hal-hal seperti itu.*

Perempuan yang masih memilih hidup menggadis ini, setiap minggunya sering ikut pengajian. Kebetulan minggu ini sang ustadzah membahas soal makhluk halus yang sering menggoda manusia. 

"Ibu-ibu, tak usah lah takut dengan makhluk gaib, apakah itu hantu, pocong, kuntilanak dan lain sebagainya. Mereka itu iblis, jin jahat yang berwujud hantu, sukanya menakut-nakuti kita. Ketahuilah kita ini lebih mulia dari padanya, "kata Ustadzah Laila. 

"Ibu-ibu ingat tidak, kenapa bisa ada pocong di dekat jembatan tua perkampungan kita, padahal dahulu tak pernah ada. Tapi banyak saya dengar cerita warga sering diganggu nya, kenapa? Karena kita yang membuatnya ada di pikiran. Karena hantu itu adalah iblis yang berwujud seperti apa yang manusia takuti. Misal kalau ibu berfikir ada pocong di pohon besar itu, mengetahui hal itu, iblis pun langsung menyerupai pocong tersebut dan bertengger di sana. Jadi tak usah lah terlalu membuat kepercayaan aneh-aneh di suatu tempat, nanti jadinya syirik, takut itu kepada Allah, bukan kepada hantu, iblis atau yang lainnya. Sampai sini dulu pengajian kita, kalau ada pertanyaan Ibu-ibu boleh acungkan tangan,"pengajian pun ditutup. 

Di perjalanan pulang, Rainir langsung tersenyum, sebab pertanyaan yang ada di benaknya tadi langsung terjawab setelah mendengar ceramah ustadzah Laila, kenapa hantu di Indonesia berbeda dengan hantu di luar negeri. Rupanya itu semua ada dipikirin manusia. Model hantu dipikirin manusia Indonesia tentulah berbeda dengan hantu di pikiran manusia di luar negeri. Kalau di Indonesia ada pocong, maka diluar negeri ada valak. Beda selera rupanya. 

"Jadi hantu ini hadir sesuai request manusianya. Sudah seperti menu makanan saja, "bisiknya sambil tersenyum. Sekarang dia menganggap hantu itu sudah seperti guyonan saja.

Komentar

postingan populer