GADIS PENJAJA KANTONG KRESEK
Ingatan itu terasa samar - samar, ketika tiga bocah kecil itu melintas di balik kerumunan orang-orang di pasar tradisional. Dia bertiga beradik, dua orang perempuan dan satu laki-laki. Diantara keduanya hanya dua orang yang memakai alas kaki, selebihnya tidak.
Namun, kaki bocah kecil itu betul-betul terlihat kokoh, seperti tak lelah berjalan di sepanjang kerumunan. Mereka membawa puluhan helai kantong kresek hitam kosong ukuran lima kilo. Sembari berteriak kepada setiap orang yang berlalu lalang di jalan setapak yang dikerumuni pedagang sayur "butuh kantong kresek pak, buk," ujar gadis mungil berdaster putih, rambut terurai dengan wajah mengiba sembari menjulurkan satu helai kantong kresek yang terlipat.
Satu dua orang yang ditawarkan, tak ada yang menggubris, orang ketiga juga demikian, orang keempat malah mengabaikan, orang kelima merasa terganggu, malah terkesan marah, untung saja ada ibu-ibu berbaju kemeja kuning, berjilbab coklat menghampiri gadis kecil tersebut, ia membeli dua helai kantong kresek dengan mengeluarkan uang kertas Rp 10.000.
"saya tak punya kembaliannya buk, saya tukar dulu di pedagang cabai itu, "ucap gadis kecil bermata indah itu.
" Tak usah dikembalikan,"balas perempuan sparuh baya,kemudian berlalu meninggalkan ketiga saudara beradik tersebut. Seketika raut wajah mereka berubah, yang sedari tadi kusut, mengkerut, sekarang tertawa cekikikan.
Secara bersamaan bocah kecil itu melompat-lompat, berlari-larian sembari mengibas-ngibas uang kertas bergambar penari pakarena itu. Sang adik yang sedari tadi memegang perut, entah karena lapar atau sakit, langsung menarik baju saudara sulungnya, menunjuk ke arah pondok kecil yang di dalamnya ada penjual minuman dan gorengan. Mereka bertiga langsung tertuju ke tempat tsb. Tanpa basa basi dua gorengan ludes dilahap, kemudian berebut meminum satu botol air mineral secara bergantian, sedangkan si bungsu porsi gorengannya mereka lebihkan.
Sisa uang kembalian mereka simpan di kantong kresek kecil di saku baju. Setelahnya mereka kembali berteriak menjual kantong kresek yang tersisa, tidak seperti tadi dengan wajah mengiba, sekarang mereka lebih bergairah.
Komentar
Posting Komentar