Jalan Pulang Akbari

 

“Jika akhlakmu baik, itulah yang akan jadi contoh, tak ada orang yang ingin menjadi buruk dalam berkehidupan, pasti akan berupaya untuk jadi lebih baik, maka apakah mungkin Kultsum, perempuan yang berkerudung panjang itu, memilihmu yang suka bersenang-senang dengan banyak perempuan? Akan merugi dia,”ujar Ilham.

“Dia ingin belajar jadi lebih baik kepada seorang imam yang juga punya iman dan akal, sedangkan kau, akal ada, iman kurang, berubahlah bukan karena si Kultsum, tapi memang untuk ketenangan dan ketaatan jiwamu kepada Sang Khaliq yang memiliki kehidupan, Kau beruntung diberi kehidupan oleh-Nya, maka bersyukurlah dan jangan lupa diri. Ingat, kau itu bukan apa-apa,” nasihat sahabatnya, Ilham, kala itu.

Sudah satu tahun lebih Akbari melihat Kultsum dari kejauhan, tatkala perempuan itu mengendarai sepeda hitam setiap sore melewati kantor pemuda dekat masjid gang rumahnya. Perempuan itu salah satu guru mengaji di lingkungan itu, dia perempuan muda, yang senang menyendiri, secara usia dia sudah cukup dewasa untuk ukuran gadis di kampung tersebut, namun belum menikah. Ada banyak hal yang membuatnya menunda. Studi S2 yang belum rampung, calon-calon yang datang tak sesuai syariat, dan banyak urusan hidup lainnya yang masih harus ia tuntaskan.

---------------------------------------------------------------------------------------

AKBARI bukanlah sosok pria baik dalam pandangan agama, namun di kampung Cagar Asri itu, ia adalah pria idaman para gadis disekelilingnya. Pekerjaannya juga cukup mentereng, manager perusahaan swasta bergerak di bidang  ekonomi. Pria 32 tahun itu memang gagah, baik dari penampilan maupun dari kendaraan yang dia pamerkan. Perempuan mana yang tak tertarik dengannya. Dalam setahun, entah berapa perempuan yang mendatanginya, menjalin kasih, tapi semuanya berakhir sama, yakni membosankan. Baginya, perempuan-perempuan itu amat menyusahkan, sebab gemar belanja, manja, dan suka pesta.

Sore itu, angin bertiup dari utara, menerbangkan daun-daun coklat kering di jalan menuju rumahnya. Bau tanah basah masih terasa, setelah hujan deras mengguyur siang tadi. Akbari pulang kerja lebih awal karena esok harus melakukan inspeksi ke luar kota. Ia duduk di bawah pohon flamboyan yang sedang bermekaran, warna oranye bunganya mempercantik halaman rumah. Di sampingnya, terdapat kolam ikan hias yang baru selesai dibangun, dengan kondisi air beriak lembut, dan suara gemercik air yang menenangkan.

Sedang menikmati indahnya perpaduan alam, tiba-tiba dibuyarkan oleh suara benda jatuh dari samping pagar rumah. Ia segera berlari menuju arah suara itu. Seorang perempuan berkerudung coklat muda, dengan gamis hitam, terduduk di tanah, kakinya terhimpit badan sepeda. Tanpa berpikir panjang, Akbari mengangkat sepeda itu dan menyingkirkannya dari kaki perempuan tersebut. Akbaripun hanya menatap ke wajah Perempuan itu dengan dahi yang berkerut menandakan ketidaknyamanannya melihat perempuan yang tampak seperti berjubah.

Ia mengulurkan tangan kanannya yang dia seka terlebih dahulu lantaran kotor oleh tanah bekas membersihkan kolam tadi, perempuan itu tak menyambut, dia hanya menunduk dan berkata pelan,
“Terima kasih, Kak. Saya coba berdiri sendiri.”tuturnya pelan.

Akbari terdiam sejenak, lalu kembali bertanya. “Ada yang sakit? Saya panggil saudara perempuan saya saja untuk membantu,” ucapnya.

“Tidak apa-apa, Kak. Hanya sedikit keseleo, masih bisa berdiri,” jawabnya lembut sambil membersihkan tanah dari tangan dan kakinya.

“Kalau begitu, hati-hati,” balas Akbari, lalu menyingkir memberi jalan.

Perempuan itu melanjutkan perjalanannya menuju masjid. Akbari menatap punggungnya sekilas, walau merasa risih dengan kostum perempuan itu kenakan. “Pakaian macam itu, menyapu tanah, entah bagaimana dia nyaman,” gumamnya dalam hati.

Keesokan pagi, Akbari mulai bersiap-siap untuk berangkat bekerja, setelan kemeja dan jas abu-abu sudah ia kenakan lengkap dengan jam tangan, dia menunda sarapan, jadi langsung menuju bagasi mobil untuk berangkat. Dalam perjalanan pria itu mengamati berbagai macam aktivitas orang, ada yang berangkat ke kantor, ada yang berjualan ke pasar, dan ada yang pergi ke sekolah. Dari kiri jalan, matanya menangkap segerombol perempuan berpakaian hitam longgar mirip dengan perempuan yang terjatuh dari sepeda kemarin. Ia menghela napas pendek, sesaat ingatannya kembali pada kejadian itu, seketika bergumam,”saya rasa dia jatuh karena bajunya yang kebesaran itu nyangkut di sepeda, padahal dia bisa mengkondisikan, kenapa memilih untuk menyusahkan diri,”.

Tiba-tiba ponselnya berdering, tertanda nama perempuan dalam daftar kontak ponsel itu, dia jawab panggilan tersebut. Diseberang sana suara perempuan lirih merayu. Akbari paham betul, kalau itu perempuan playing victim yang merepotkan. Dia matikan ponselnya.

Seperti biasa di kantor, kegiatannya penuh dengan aktivitas pekerjaan, rapat, dan ke luar kota, tak ada yang istimewa, tapi seperti biasa banyak mata yang memujinya dengan setelan yang setiap kali ia kenakan, dengan proporsi tubuh atletis yang didambakan banyak orang. Biasanya kalau ada klien baru perempuan, pasti Akbari yang diutus rapat, karena pesonanya yang mampu membuat kliennya itu setuju bekerjasama. Di kantor itu juga ada rekan perempuannya, bernama Dyan yang juga sepadan dengannya. Mereka sering dijodohkan oleh teman-teman sekantor, tapi keduanya tak pernah menanggapi serius. Hingga pada suatu perjalanan dinas, Akbari memulai percakapan yang membuka jalan baru dari rayuannya.

Dyan sempat menolak rayuan itu, tapi perlahan luluh oleh kata-kata manis Akbari. Dua minggu kemudian, mereka sudah seperti pasangan kekasih, walau di kantor tetap tampak profesional. Ketika itu Akbari memuji dirinya, karena seolah semua perempuan itu bisa ia taklukkan.

Semua itu berubah pada hari Sabtu ketika ia tak lagi ke mana-mana. Saat membersihkan kolam ikannya, perempuan bersepeda hitam itu kembali lewat. Perempuan itu bernama Kultsum. Ia  pura-pura tak melihat, saat melewati pagar rumah Akbari, pria itu memanggilnya dengan lantang, “Hei, kamu yang jatuh dari sepeda kemarin! Sudah sembuh kakinya? Lewat depan rumah saya tak menyapa, lupa ya siapa yang menolong dulu?”ujar pria itu.

Kulsum menoleh, tersenyum singkat, dan menjawab pelan, “Maaf, Kak. Saya tadi tak melihat. Terima kasih sudah menolong waktu itu.” Lalu ia segera mengayuh sepedanya, dan berlalu begitu cepat.

“Dasar sombong,” gumam Akbari kesal.

Sejak saat itu, Perempuan 30 tahun itu, sengaja menghindari depan rumah Akbari. Ia tahu pria itu sering di rumah setiap Sabtu. Bagi Kultsum, menyapa laki-laki bukan mahram itu rasanya kurang baik untuk dirinya, maka ia lebih memilih diam.

Bulan berlalu. Suatu sore Akbari menghadang jalan Kultsum dari depan rumahnya. ”Assalamualaikum, kak. Saya ijin lewat,”ucap Kultsum sopan.

‘Waalaikumsalam. Tidak bisa lewat sini, ini lahan saya,”jawab Akbari dingin.

“Kalau begitu saya balik saja,”.

“Tidak bisa juga, tempat kau berdiri itu masih lahan saya,”

Kultsum menatapnya bingung,”Kalau begitu saya harus bagaimana kak?,”

“Minta maaf, kalau suatu hari nanti saya butuh bantuan, kamu mesti membantu,”ucap Akbari unjuk gigi.

Karena tergesa hendak ke masjid, Kultsum akhirnya setuju. Ia hanya ingin cepat-cepat sampai masjid, karena sudah terlambat. Akbaripun puas, dan merasa menang.

Setelah kejadian itu Akbari dan Kultsum saling berpapasan, mereka hanya sebatas menyapa saja, untuk basa-basi. Bagi Kultsum itu hanya simbolis dia numpang lewat, kalau bagi Akbari dia merasa tuan tanah yang mesti disanjung.

Waktu terus berlalu, empat minggu sudah Akbari tak melihat Kutsum melewati rumahnya, biasanya setiap minggu selalu menyapa, baik saat pria itu sedang duduk di bawah pohon maupun saat duduk di pintu pagar, tapi kali ini tak ada tanda-tanda kedatangan Kultsum, Perempuan itu menghilang dari pandangan. Hingga suatu hari, ketika ia membutuhkan bantuan perempuan itu untuk proyek perusahaan, barulah ia mencarinya ke masjid dan mendapatkan nomor teleponnya.

Saat dihubungi, Kultsum hanya menjawab singkat dan sopan. Ketika Akbari meminta bantuannya untuk berpura-pura menjadi pasangannya dihadapan klien pasangan suami isteri asal kota melayu itu, mengingat klien itu juga merupakan pasangan Syar’i, maka lebih cocok rasanya jika dihadapkan dengan Kultsum sebagai pendampingnya, agar proyek itu bisa disetujui. Kultsum menolak tegas atas permintaan Akbari.

“Maaf kak. Saya tidak bisa ikut berbohong,”

“Kalau tak mau, saya nikahi saja kamu,”kata akbari kalap mendengar penolakan itu.

Kultsum pun menutup telepon genggamnya. Sejak saat itu, ia tak pernah membalas pesan pria itu lagi.

Akbari yang sudah sadar bahwa pesannya tak dibalas, malah meradang, tak pernah ada yang menolaknya sehina ini. Maka dia carilah cara agar niatnya ini bisa terlaksana.

Ilham yang mengetahui pekara itu langsung menasehati Akbari agar tak gegabah dalam bertindak, tapi pria itu tak menghiraukannya, sebab proyek besar ini adalah pencapaian tertinggi dalam ia berkarir. Maka mulailah dicari cara untuk menemui Kultsum.

Satu minggu berlalu, Kultsum mulai sibuk dengan persiapan sidang tesisnya, dia mesti bolak balik kampus untuk menyelesaikan persetujuan tesis yang akan dia sidangkan dua minggu lagi. Ketika dia tengah asyik membalas chat sambil berjalan di depan gedung tua belakang kampus, tiba-tiiba mobil sedan hitam berhenti tepat di depannya.

Pria berkacamata hitam dengan pakaian kemeja putih rapi berjalan mendekatinya, Kultsum paham betul sosok itu, dia adalah Akbari, dalam keperluan apa lagi dia mesti mencari. Kultsum ketakutan, mengingat konflik yang terjadi antara dia dan pria itu.

“Kamu jangan sok cantik dan jual mahal, sudah mending saya mau dengan kamu, yang tak ada apa-apanya, seharusnya kamu beruntung jika saya membersamaimu,”ucap Akbari seraya ketus.

Kultsum memberanikan diri untuk membalas ucapan Akbari, “Pak Akbari yang terhormat, jika anda ingin dihormati maka hormati orang lain, jangan seperti ini, seperti orang yang kehilangan harga diri dan kepercayaan diri,” balas Kultsum dengan garang.

“Kamu ikut saya dulu, atau saya paksa kamu, sudah tidak ada waktu lagi, minggu depan saya harus presentasi proyek ini, dan kamu harus ikut saya langsung”tegasnya.

Tanpa berfikir panjang Kultsum lari menghindar menuju kedai depan jalan yang ramai, saat itu dia bersembunyi diantara kerumunan. Dia lihat Akbari dari kejauhan menaiki mobilnya dan meninggalkan lokasi. Sejak kejadian itu Kultsum mulai pergi berkelompok, dia enggan jalan sendiri.

Akbari yang merasa gagal membawa Kultsum saat presentasi proyek, memutuskan untuk menyelesaikan proyek itu sendiri. Singkat cerita proyek tersebut tidak diloloskan dan bahkan gagal dalam perencanaan, tak tanggung-tanggung sudah berapa banyak waktu dan tenaga yang ia korbankan untuk proyek itu. Akbari ketika itu harus menerima kekalahan, dengan penuh kesal dan kekecewaan, dia mulai menyalahkan Kultsum yang ingkar janji lantaran enggan membantunya. Pria itu sudah kehilangan harga diri dan merasa terhina. Maka dia putar kepala untuk melakukan pembalasan, entah apa yang akan pria itu rencanakan. Yang jelas dia sudah kalap. Maka dia bertekad untuk menghancurkan harga diri perempuan itu.

Diaturlah rencana dalam menjalankan misi tercelanya itu. Dia mulai memantau kegiatan gadis itu, kapan dia sendiri kapan dia berkelompok. Kesempatan itu datang, di jalan yang sepi saat melihat gadis itu berjalan dengan gelagapan dan langkah gontai, maka ketika itu Akbari langsung mengincarnya dan mendorong ke dalam mobil. Di dalam mobil terjadi kegaduhan. Malam itu kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi menjauhi keramaian, rasa cemas meliputi Kultsum yang sedari tadi duduk berpangku tangan di jok kanan paling pojok. Sedangkan Akbari sudah kehilangan akal, dia hendak menyelesaikan pekara dengan gadis itu.

Mobil itu dipakir tepat di bawah pohon besar yang jauh dari pemukiman, maka disitulah Akbari mulai membalas sakit hatinya, dia menggertak Kultsum yang menggigil ketakutan, dia memaksa memeluk perempuan yang sudah tak berdaya itu. Akbari betul-betul ingin melahap gadis itu.

Di tengah malam gelap, di bawah pohon besar, ia hampir melakukan kebodohan yang akan menghancurkan hidup keduanya. Namun detik itu juga, suara hatinya berteriak kuat, Berhenti!

Ia menahan diri, lalu menyalakan mobil, dan tancap gas. Tapi laju mobil itu kehilangan kendali. Benturan keras terdengar. Akbari terbentur dengan sangat keras, sementara Kulsum terlempar keluar dengan kondisi luka di lutut dan siku. Dan ketika itu pandangan Kultsum sudah buram.

Kabar kecelakaan Akbari dikabarkan oleh orang sekitar yang berada dekat Lokasi kecelakaan. Ilham yang menerima panggilan itu langsung bergegas ke lokasi dan menelpon keluarga Akbari. Akbari dan Kultsum dibawa ke rumah sakit. Akbari mengalami pendarahan hebat di kepala, dia dalam kondisi kritis. Tindakan operasi harus dilaksanakan. Kendatinya hanya 40 persen peluangnya untuk hidup.

Di sisi lain Ilham menyadari kenyataan bahwa Akbari kecelakaan bersama Kultsum karena dia tahu betul, pria itu berencana membalaskan rasa kekalahannya dengan menyalahkan Kultsum.

Di ruangan lain, Kulsum terbaring lemah tapi sadar. Ilham datang menghampiri, menanyakan keadaannya, sekaligus meminta penjelasan terkait kejadian kecelakaan itu. Perempuan itu belum bisa menjelaskan apa-apa, karena tekanan yang masih terasa disekujur tubuhnya. Namun Nurani perempuan itu masih berfungsi dengan baik, lalu menanyakan kabar Akbari.”Apakah kondisinya baik-baik saja,”ucap Kultsum pelan. Ilham menggeleng, menandakan bahwa Akbari sedang dalam kondisi parah. “Kultsum mengucap dan berdoa untuk keadaaan Akbari agar cepat membaik.

“Apakah kamu mau memaafkannya?,” tanya Ilham pelan. Kultsum menatap ke bawah, menahan perih di dada, lalu mengangguk pelan. “Saya maafkan, Kak. Semoga Allah juga memaafkannya.”Kultsum yang merasa hatinya sakit mulai luluh dengan perkataan Ilham, maka dia mengangguk dan memaafkan perbuatan Akbari.

Dua minggu belalu, Akbari masih belum juga sadarkan diri, tapi jarinya mulai bergerak sedikit.

Tiga minggu kemudian. Akbari mulai sadarkan diri. Kata pertama yang terucap adalah nama itu, “Kultsum… apakah dia baik-baik saja?”,

“Iya,”jawab Ilham. “Dia hanya luka ringan. Dan dia sudah memaafkanmu,”. Seketika air mata menetes dari sudut mata Akbari.

Sejak hari itu, hidupnya berangsur berubah. Ia mulai memperdalam ilmu agama, mengurangi kesombongan, dan menata hidupnya. Ia mencari Kultsum, tapi tak pernah menemukannya lagi. Walaupun sesekali dia masih teringat dengan Kultsum, tapi tak tahu dimana keberadaan gadis yang sudah dia lukai itu. Dia sering mencari kabar, tapi hasilnya nihil. Dia sudah bertanya kepada kenalan Kultsum baik dari ustadzahnya, atau kawan sebayanya, tak ada yang tahu keberadaaannya.

Setahun berlalu. Akbari kini lebih banyak menggunakan waktu luangnya di masjid, dia lebih tenang di sana. Setiap kali lantunan ayat suci menggema di antara dinding rumah Allah, wajah Kultsum terlintas di benaknya, bukan karena rindu, tapi karena dari sanalah ia mengenal makna ketenangan.

Pria itu akhirnya paham, bahwa melalui Kultsumlah dia jadi sadar bahwa sosok yang selama ini dia lukai, sosok itulah yang dia harapkan kehadirannya. Tapi melalui sosok itu jugalah mulai menyadarkan dirinya bahwa selama ini dia sudah jauh dari Tuhan.

Suatu malam, di atas sajadah, ia berbisik pelan,”Terimakasih, ya Rabb. Engkau pertemukan aku dengan seseorang yang membuatku mengenal-Mu.”

Esok paginya, ponselnya berdering. Ada pesan masuk:

Waalaikumsalam, Kak Akbari. Insya Allah saya kembali dari Jerman besok sore. Jika Kakak berkenan, datanglah ke rumah untuk bersua dengan keluarga saya. Kami tunggu kedatangan Kakak dan keluarga.
— Kulsum

Seketika tangannya gemetar membaca pesan itu. Antara syukur dan haru. Ia menatap langit-langit kamar, lalu tersenyum. Mungkin, inilah cara Tuhan menepati janji-Nya—mengembalikan seseorang yang datang bukan untuk dicintai, tapi untuk menyadarkan.

 

 

 

 

Komentar

postingan populer