Makanan Khas Minang Lompong Sagu, Mulai Langka





Pedagang Makanan Tradisional Mulai Hilang

Dulu makanan khas minang ini mudah ditemukan di pasar tradisional bahkan ada yang menjajakan dari rumah ke rumah. Tapi sekarang lompong sagu mulai jarang ditemukan, hal ini disebabkan karena adanya pergeseran tradisi dan gaya hidup dalam masyarakat, bahkan makanan tersebut digantikan dengan makanan modern.

BANIARA, lansia 70 tahunn itu, tangannya sangat lihai membungkus satu demi satu adonan lompong sagu dengan daun pisang. Sekitar sepuluh bungkus lompong sagu yang sudah dibungkus ia bakar pada  perapian bara sampai matang. Setelah bungkusan daun pisang tersebut sedikit menghitam ia pindahkan ke wadah yang besar.

"Ko baru masak bana mah, lompong sagu nan lamak dimakan kalau angek-angek. Cubolah dulu,"ucapnya.

Sudah 40 tahun lebih Baniara berdagang lompong sagu. Diusianya yang senja, masih tampak semangat untuk berjualan makanan khas minang tersebut. Padahal anak-anaknya sudah melarangnya untuk  berjualan.

"Ambo sajak tahun 1974, mangaleh lompong sagu, sajak ditinggaan suami ambo wafat, dari pado ambo taingek suami, bialah ambo alihan mangaleh, tapi pas lah tuo, anak loh nan indak katuju ambo mangaleh. Ambo kecek an ka anak, ko makanan urang lamo mah, jadi payah mancarinyo kini, selagi ambo masih kuek bialah ambo kenalkan makanan ko ka urang-urang, "jelasnya.

Bahkan, banyak diantara anak muda tidak mengenal makanan tersebut. Ia khawatir jika resep makanan ini tak dilestarikan, maka lompong sagu terancam punah." Ambo tanyo ka anak-anak kini, lai tahu jo lompong sagu? banyak manjawek indak tahu. Kalau model ko, sekitar limo tahun lai, makanan ko hilang, "ungkapnya.

Sebagai pedagang lompong sagu ia katakan , dari hari kehari peminat lompong sagu mulai berkurang. bahkan dari dua gantang sagu yang dibuat, hanya habis separuhnya." Kalau dua gantang sagu, bisa dapek 200 bungkuih, tapi indak habis sadonyo. Kalau dahulu waktu tahun 80 an, lima gantang sagu nan ambo buek, habis sadonyo, "bebernya.

Harga satu bungkus lompong sagu dijual seharga Rp 2 ribu. Katanya dengan berjualan makanan tradisional tersebut ia sudah bisa membiayai sang anak, sampai jadi guru." Anak ambo 8 urang, ciek diantaranyo alah sarjana, biaya sekolahnyo dari mangaleh lompong sagu ko. Kini nyo lah jadi guru,"tuturnya.

Tak hanya itu, ia katakan, penjual lompong sagu saat ini, hanya ada dibeberapa lokasi di Kota Padang, yakni Ampang, Kampuang Kalawi dan Siteba. "Di situ biasonyo ado jua Lompong Sagu, kinilah payah mancarinyo," terangnya.

Salah satu pembeli asal Bukittinggi, Nurleli, mengatakan, lompong sagu ditempatnya sudah mulai susah ditemukan, kebetulan ia baru balik dari kegiatan pesta, ketika melihat ada yang menjual lompong sagu langsung singgah dan membeli 20 bungkus.

"Lah lamo ambo mancari makanan ko. Lah payah kini basobok. Jadi ambo bali agak banyak lah, soalnyo makanan ko lamak. Indak beda jauh jo lapek doh rasonyo, "ucapnya.

Di samping itu, pengamat khusus kajian kuliner khas Minangkabau, Perspektif Antropologi Makanan, Unand, Yevita Nurti, menjelaskan bahwa saat ini makanan dari luar lebih dominan masuk dibandingkan makanan tradisional, sehingga terjadi persaingan, sementara makanan tradisional segitu saja.

"Kita sudah diserbu makanan luar sehingga makanan tradisional semakin tersingkirkan, ditambah lagi bahan yang digunakan untuk membuat makanan tradisional tersebut sudah mulai langka, seperti daun pisang misalnya untuk membuat lompong sagu, "ujarnya.

Ia katakan, kalau tak ada kepedulian untuk melestarikannya lama-lama makanan tradisional tersebut akan terkikis. Namun jika ada kepedulian tentu masyarakat akan mulai menanam pohon pisang kembali dan daunnya bisa digunakan.

" Kalau penggemar makanan tradisional tersebut masih banyak. Soalnya orang juga akan bosan dengan makanan luar, sehingga mereka akan berburu makanan tradisional, "ucapnya.

Selain itu, kekurangan dari makanan tradisional, selama ini belum ada standar resep dari makanan tersebut sehingga pengolahannya masih sesuai selera." Sebaiknya harus ada standarnya berapa santan yang digunakan atau berapa gantang sagunya dan bahan lainnya, "terangnya.

Ia sampaikan, tujuan kedua turis atau wisatawan ke sini selain karena alamnya, karena aneka ragam kulinernya, seperti halnya Yogyakarta yang masih mempertahankan makanan tradisionalnya." Tapi kita masih minim padahal makanan tradisional itu alami dan tak berpengawet, kalau seperti ini terus, maka makanan tradisional minang akan punah ditelan zaman, lalu apalagi yang mesti kita wariskan keanak cucu, "jelasnya.

Tentu harus ada upaya untuk mempertahankan agar makanan tersebut tetap dikenal,  dengan cara mengedukasi anak muda terkait makanan tersebut. Sedangkan untuk memasarkannya dibuat pasar tradisional khusus makanan tradisional.

" Seperti di tepi laut Pantai Padang, di sana bisa dijual kue mangkuak pakai tempurung, sebelahnya ada lompong sagu dan makanan tradisional lainnya. Pasti banyak wisata yang singgah ke sana, mereka akan menyerbu tempat itu, karena banyak kuliner lokal yang dijual, "tukasnya.

Komentar

postingan populer