(Sudut Pandang) Membaca Itu Menyebalkan, Tapi Kebodohan Lebih Menyakitkan

 

Kalau orang bertanya tentang hobi, saya akan jawab: membaca dan menulis. Tapi percayalah, itu hanya kamuflase. Saya menyamar demi melindungi diri dari pandangan orang yang menganggap bahwa orang yang suka membaca dan menulis pasti pintar.

Kalau mau jujur, siapa juga yang rela melakukan dua kegiatan yang begitu merepotkan itu? Membaca dan menulis menurut saya sangat tidak menyenangkan. Membaca butuh fokus tinggi, kita tak bisa asal membaca, sebab setiap halaman menuntut renungan, analisis, dan kesimpulan. Semua itu menguras tenaga dan pikiran.

Jangan tanya soal menulis, itu lebih berat lagi. Menciptakan sesuatu dari ketiadaan adalah pekerjaan paling melelahkan di dunia. Dua aktivitas itu membaca dan menulis sama-sama menuntut fokus dan kerja otak yang intens. Kesimpulannya, saya paling malas kalau sudah berurusan dengan keduanya.

Kalau dibandingkan dengan kegiatan lain, jelas lebih menyenangkan mendengarkan musik, bermain ponsel, menonton film, atau bermain games. Semua itu memberi hiburan instan tanpa perlu berpikir keras. Jadi kenapa harus susah-susah membaca dan menulis?

Jawabannya sederhana, karena dua hal itu tidak memberi saya pilihan untuk tidak melakukannya.

Di balik semua ketidaksukaan itu, saya akhirnya sadar bahwa membaca dan menulis justru kebutuhan pokok. Mau suka atau tidak, keduanya harus dilakukan. “Jangan banyak alasan,” begitu saya menghardik diri sendiri.

Saya butuh dua aktivitas itu untuk membangun cara berpikir. Karena tanpa berpikir, saya akan hanyut, ikut arus, dan kehilangan arah. Maka seberapa pun malasnya, saya tetap memaksa diri. Saya paksa membaca meski bosan, saya paksa menulis meski mood sedang buruk. Karena saya tahu, hanya membaca dan menulis yang bisa menolong saya dalam kesulitan.

Akal kalau tidak diasah akan tumpul. Dan ketika tumpul, ia akan mudah dikendalikan, jadi budak, tanpa sadar diperdaya oleh dunia. Saya tidak mau jadi budak. Saya ingin hidup dengan kendali penuh atas diri saya.

Saya juga takut menjadi orang yang tidak berguna. Sebab ketika sudah merasa tak berguna, semua terasa terbatas, ini tak bisa, itu tak mampu. Maka saya belajar memaksa diri untuk tetap membaca dan menulis, karena di situlah jalan menuju kebebasan pikiran dimulai.

Dan kalau kamu lihat saya memamerkan buku-buku di media sosial, percayalah, itu memang untuk flexing. Saya tidak ingin menikmati susahnya membaca sendirian. Saya ingin membagi sedikit hasil jerih payah itu ke orang lain, barangkali ada yang ikut terinspirasi.

MEMBACA

Saya membaca banyak buku, meski kebanyakan fiksi. Bukan berarti saya tak suka nonfiksi, tapi tergantung suasana hati.

Kalau sedang galau, saya bisa menamatkan novel Habiburrahman El Shirazy seperti Bidadari Bermata Bening, Kembara Rindu, dan Cinta Suci Zahrani, karena cuma itu yang sanggup saya beli. Kalau sedang ingin berbisnis, saya lahap buku biografi Jack Ma: Sisi-Sisi Tak Terduga Sang Godfather Bisnis China.

Saat masih merasa bodoh, saya beli lagi Why “A” Students Work for “C” Students karya Robert Kiyosaki. Tak sampai seminggu, habis juga saya baca.

Kalau kemampuan menulis sedang melemah, saya cari majalah bekas Tempo di pasar loak, Rp10 ribu dapat satu, atau Rp30 ribu dapat empat. Kalau masih kurang, saya baca tulisan Mahbub Djunaidi dan A.A. Navis sebagai pelengkap. Tanpa sadar, gaya menulis si penulis itu, sering teradopsi ke tulisan saya.

Soal sejarah dan agama, jangan ditanya lagi, saya pernah tenggelam dalam buku Muhammad Al-Fatih 1453 karya Felix Siauw. Buku itu membuat saya begitu bersemangat saat menjadi pemateri di pesantren Ramadan tahun 2016. Bahkan saya masih punya buku lain dari Felix, Habits: How to Master You, yang sampai sekarang belum saya kembalikan ke teman saya. Maaf, bro.

Buku terberat yang pernah saya baca? Dunia Sophie. Baru beberapa halaman saja otak sudah panas. Lalu ada Madilog karya Tan Malaka, baru sampai halaman 14 saya sudah lelah. Tapi saya kagum, bagaimana mungkin Tan Malaka dengan segala keterbatasan di masa itu bisa menulis karya sedalam itu?

Kalau para tokoh seperti Tan Malaka, Buya Hamka, KH. Agus Salim, Bung Hatta, dan Bung Karno bisa menghasilkan karya hebat dalam kondisi penuh keterbatasan, bukankah kita yang hidup di zaman serba mudah ini seharusnya bisa berkarya lebih banyak?

MENULIS

Kalau membaca melelahkan, menulis lebih-lebih lagi. Menulis butuh kepala yang penuh, ide yang segar, dan daya tahan berpikir yang panjang.

Saya sering kewalahan menentukan tema, mengatur alur, atau menutup tulisan dengan baik. Tapi mau bagaimana lagi, menulis harus dilakukan agar kemampuan tidak tumpul.

Blog ini saya buat sejak 2016. Sempat terhenti, aktif lagi 2019, lalu mati lagi 2021, dan sekarang saya hidupkan kembali. Insya Allah, kali ini tidak akan berhenti. Target saya, satu hari, satu tulisan.

Saya tahu tak semua orang suka dengan tulisan saya, tapi saya tidak peduli. Kalimat saya mungkin belum seindah penulis besar, tapi saya terus menulis supaya bahasa saya makin halus dan logika saya makin tajam.

Kadang menulis terasa sangat melelahkan. Tapi saya tetap memaksa, karena saya tahu setiap tulisan adalah batu bata kecil yang sedang menyusun diri saya menjadi manusia yang berpikir.

Dan satu hal lagi, saya tidak mau hasil tulisan saya dimiliki orang lain. Setelah ikut beberapa lomba dan tahu bahwa tulisan pemenang jadi milik panitia, saya berjanji, tulisan saya akan lahir dan tumbuh di rumah sendiri, di blog ini.

Jadi kalau kamu masih mengikuti rasa malas terhadap membaca dan menulis, bersiap-siaplah menjadi orang yang tidak berkembang. Saya takut menjadi bodoh, karena kebodohan itu menyakitkan. Ia membatasi pikiran dan membuat kita gagap di hadapan dunia.

Maka saya membaca. Saya menulis. Karena di sanalah kebebasan sejati berakar.

Komentar

postingan populer