Sudut Pandang (Tentang Fungsi Surau)
Dimana anak kemenakan akan
belajar adat istiadat? Kalau Ninik mamak hanya sibuk ikut acara-acara adat, yang
nantinya kalau pulang dapat oleh-oleh. Tigo Tungku Sajarangan, jadi
tempat mencari teladan bagi anak muda minang. Tapi disadari atau tidak
perannya hanya tinggal kenangan, bagaimana tidak, kemenakan-kemenakan yang
seharusnya lahir menjadi intelektual layaknya 7 tokoh besar Minang pada masa
itu, sebutlah Tan Malaka, Sutan Syahrir, M. Hatta, Buya Hamka, M. Natsir dan
lain-lain yang lahir dengan pemikiran hebat berkat ilmu teladan Minang, Adat
Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, yang diajarkan oleh Tigo Tungku
Sajarangan di Surau.
Sekarang apa kabar? Anak
kemenakan sudah berubah menjadi pemangsa, jangankan berharap jadi intelektual,
perkara adab saja sudah kacau, cobalah Ninik mamak lihat kabar kemenakan
sekarang memprihatinkan, kenakalan semakin menjadi, narkoba, LGBT sudah marak,
jangan terlalu sibuk ikut acara-acara, anak kemenakan perangainya sedang
memprihatinkan, tinggal menunggu kapan masa depannya akan rusak, dan
menyebarkan kenakalan serta penyakit dimana-mana.
Dahulu surau jadi tempat
perkumpulan anak-anak nagari, bukan hanya sebatas untuk tempat belajar mengaji,
bahkan jadi tempat aktivitas berkumpul bermainpun di surau, kalau waktu sholat
datang mereka berlomba untuk adzan, jika bulan Ramadhan tiba mereka menyebar
membangunkan warga untuk sahur. Setelah Isya mereka berkumpul untuk ikut
kegiatan silat, randai, dan kegiatan positif lainnya, sehingga ada aktivitas baik
yang dilaksanakan setiap hari. Hal ini tentu membuat anak-anak pada masa itu
tidak berkeliaran sembarangan. Bahkan secara mental dan akhlak pun akan
tertempa.
Semuanya tentu tak terlepas dari
peran ninik mamak dan ulama di kampung itu yang senantiasa membuat kegiatan
demikian lebih berwarna, bahkan tigo tungku sajarangan mesti ikut andil
mengumpulkan anak-anak dan mengawasi mereka dalam berkegiatan. Tidak ada yang
lepas pengawasan, tidak ada yang bermain aneh-aneh di jalanan, semuanya
berkumpul di surau, surau jadi ajang tempat bertumbuhnya sikap, akhlak dan
mental anak-anak.
Tapi sekarang lain cerita,
surau-surau ramai ketika ada pengajian di sore hari, atau saat didikan shubuh
dipagi hari, kecuali bulan Ramadhan, itu hampir setiap waktu shalat tiba,
anak-anak berkumpul di surau. Bersyukur masih ada pesantren Ramadhan, maka
masih wajib bagi anak-anak untuk melakoninya, sehingga tak jauh betul mereka
dari rutinitas keagamaan.
Kendatinya yang kita takutkan
kalau surau sudah tak ada lagi anak-anak bernaung di sana, tak ada lagi
aktivitas positif yang diciptakan oleh para ulama dan ninik mamak di sana, maka
akan jadi apa negeri ini, akan seperti apa masa depan anak negeri, apakah akan
lahir tokoh besar nantinya dari nagari minang ini kembali, seperti KH. Agus
Salim, misalnya. Jika lambat laun tradisi positif dalam mendidik dan membentuk
karakter anak kemenakan sudah mulai lemah? dan digantikan oleh para
arogansi-arogansi yang membawa malapetaka untuk mental dan masa depannya, kita
mesti intropeksi diri.
Bukankah kita semua punya
tanggung jawab akan kondisi ini, terutama sebagai tokoh adat dan tokoh
masyarakat di nagari, ataukah tidak peduli dengan apa yang terjadi, padahal tokoh
adat bisa saja membuat kebijakan bersama pejabat setempat agar bisa mengontrol
perangai anak nagari. Contoh saja kejadian pemuda yang suka keluyuran malam bukankah
itu adalah awal mula mudahnya masuk sumber-sumber malapetaka atas
kenakalan-kenakalan, siapa yang tahu mereka melakukan apa di sana pada malam
itu, apakah kita tidak takut dengan kondisi itu? Bukankah kita bisa membuat
aturan untuk mendisiplinkan mereka kalau tertangkap berkeluyuran, sampai ada
efek jera. Tapi nyatanya di lapangan, huft sudahlah.
Jika betul demikian, maka tak ada
lagi fungsi tokoh masyarakat dan tokoh adat di nagari. Bukankah bibit-bibit ini
mesti dijaga agar tidak hancur, ada apa dengan kita?
Lalu apa artinya pepatah “ kuek
rumah dek karano sandi, rusak sandi rumah binaso, kuek Bangsa karano Budi,
rusak budi hancualah bangsa,” yang sering dilontarkan dalam kegiatan adat
dan keagamaan, jika tak dilaksankan. Betul-betul nelangsa.
Komentar
Posting Komentar