Nasi dan Sayur
“Minggu depan kita akan mulai les
tambahan,” ucap Isnaini, wali kelas IV SD 02 Janjungan Kalam.
Seketika kelas riuh. Para siswa
berebut mendaftarkan diri kepada sekretaris kelas. Ada yang langsung berdiri
dari bangkunya, ada pula yang berteriak menyebutkan nama agar lebih dahulu
dicatat.
Riskan tetap duduk.
Sejak tadi ia memainkan pensil pendek
berwarna hitam. Ujungnya sudah tumpul, batangnya pun tinggal separuh. Sesekali
pensil itu terlepas dari tangannya lalu jatuh ke lantai. Kali ini pensil
tersebut menggelinding sampai ke bawah meja guru.
Riskan berdiri untuk mengambilnya.
“Riskan, kamu tak ikut les tambahan,
nak?” tanya Isnaini.
Riskan menggeleng.
“Tidak, Buk. Saya belajar di rumah
saja. Mamak bilang, kalau sudah bisa membaca dan berhitung, itu sudah lebih
dari cukup.”
“Kalau begitu tak usah dibayar. Ibu
buka kelas gratis.”
Riskan masih menunduk.
“Rumah saya jauh, Buk. Nanti adik tak
ada yang menjaga. Mamak pergi kerja.”
Ia kembali ke tempat duduk.
Bel istirahat berbunyi.
Para siswa berhamburan keluar kelas.
Sebagian berlari ke lapangan, sebagian lagi menuju kantin. Riskan tetap di
bangkunya. Tadi Asral sempat mengajaknya ke kantin, tetapi ia menolak.
Setelah kelas sepi, Riskan membuka
tas. Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah kotak makan berbentuk persegi
panjang.
Ia membuka tutupnya.
Nasi dan sayur.
Riskan mulai makan.
Tidak lama kemudian Asral masuk
sambil membawa plastik putih berisi gorengan dan sebotol minuman.
“Bawa bekal apa hari ini, Riskan?”
“Nasi dan sayur.”
Riskan segera menutup kotak makan
yang sudah kosong.
“Kau mau gorenganku?”
Asral menyodorkan plastik itu.
“Tak usah. Saya sudah kenyang.”
Asral menarik kembali tangannya.
“Ya sudah.”
Ia kemudian keluar lagi.
Riskan memasukkan kotak makan ke
dalam tas.
Ia tidak pernah lupa membawa bekal.
Rumahnya berada di pelosok perkebunan sawit. Setiap hari ia pergi dan pulang
sekolah dengan truk yang mengangkut anak-anak dari perkebunan.
Truk itu tidak akan menunggu lama.
Terlambat sedikit saja, Riskan harus
berjalan kaki.
Jarak sekolah dengan tempat
tinggalnya hampir satu jam perjalanan menggunakan kendaraan.
Karena itu, setelah bel pulang
berbunyi, Riskan tidak pernah berlama-lama di sekolah.
Siang itu ia sudah duduk di dekat
parkiran ketika truk memasuki gerbang sekolah.
Beberapa siswa langsung berlari
menghampiri.
Riskan ikut berdiri.
Ia menunggu sampai kendaraan
berhenti, lalu masuk bersama siswa lainnya. Setelah semua naik, Riskan menjadi
salah satu yang terakhir masuk. Ia menutup pintu.
Truk kembali melaju.
Barisan pohon sawit perlahan
meninggalkan halaman sekolah.
Riskan memandang keluar.
Tawaran les dari Isnaini kembali
terlintas di kepalanya.
Ia sebenarnya ingin ikut.
Tetapi ada adik yang harus dijaga.
Riskan adalah anak kedua dari tiga
bersaudara. Kakaknya perempuan, sedang menempuh SMA, sedangkan adiknya baru
berusia lima tahun.
Sepulang sekolah, Riskan mendapat
giliran menjaga adiknya.
Mamak dan bapaknya bekerja memanen
sawit milik orang lain. Kadang mereka mendapat pekerjaan pagi-pagi sekali. Jika
itu terjadi, Riskan harus tinggal di rumah.
Karena itulah, ada hari-hari tertentu
ketika ia tidak masuk sekolah.
Pernah suatu Senin, Riskan tidak
datang ketika sekolah mengadakan ujian.
Beberapa hari kemudian, ia mengikuti
ujian susulan.
Isnaini menunggunya selesai
mengerjakan.
“Riskan, bukankah Ibu sudah bilang
hari Senin kita ujian? Kenapa kamu tidak masuk?”
Riskan diam.
“Coba ceritakan kepada Ibu.”
“Saya menjaga adik, Buk. Mamak sama
Bapak pergi kerja ke kebun.”
Tangannya mencengkeram celana merah
yang sedikit sobek di bagian paha.
“Saudaramu tidak ada yang bisa
menjaga?”
Riskan menggeleng.
“kakak sekolah. Paman dan bibi juga
tak ada di sini.”
Isnaini mengerutkan kening.
“Lantas kenapa kamu yang harus
libur?”
Riskan tetap menunduk.
“Kenapa kamu yang harus menjaga
adik?”
Riskan mengangkat wajahnya.
“Karena kami bergantian, Buk.
Sekarang giliran saya.”
“Berarti nanti akan begini terus?”
“Iya, Buk.”
Riskan berdiri dan hendak pergi.
“Jangan dulu.”
Isnaini menyentuh bahunya.
“Ada yang ingin Ibu tanyakan.”
Riskan kembali duduk.
“Penghasilan orang tuamu cukup?”
Riskan menggeleng pelan.
“Saya kurang tahu, Buk.”
Dari bangku sebelah, Amar tiba-tiba
menyahut.
“Gaji orang tua Riskan tak banyak,
Buk. Mereka cuma kebagian menyemprot. Kalau manen, baru banyak.”
Isnaini menoleh kepada Riskan.
“Betul?”
Riskan mengangguk.
“Kalau uang jajan bagaimana?”
Riskan mengusap ujung celananya.
“Kalau orang tua gajian, kadang saya
dikasih lima ribu.”
“Setiap hari?”
Riskan menggeleng.
“Sebulan sekali.”
Isnaini terdiam.
“Kalau lapar di sekolah?”
“Saya bawa bekal, Buk.”
“Bekalnya apa?”
“Nasi dan sayur.”
“Lauknya?”
Riskan menggeleng.
“Hari ini tidak ada lauk. Biasanya
makan lauk kalau Mamak sama Bapak sudah gajian.”
Isnaini menatapnya.
“Kalau di rumah?”
Riskan terdiam sebentar.
“Kadang makan mi kuah, Buk.”
“Sendiri?”
Riskan menggeleng.
“Satu dibagi tiga. Saya, adik, sama kakak.”
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Isnaini merogoh saku bajunya.
Ia mengeluarkan selembar uang lima
ribu.
“Sudah. Sekarang kamu pergi jajan.”
Riskan menggeleng.
“Saya sudah kenyang, Buk.”
“Ambillah.”
“Tak usah, Buk.”
“Ambil.”
Riskan akhirnya menerima uang itu.
“Terima kasih, Buk.”
Ia beranjak.
Baru beberapa langkah, Riskan
mengusap matanya dengan punggung tangan.
Isnaini tidak memanggilnya kembali.
Sejak hari itu, ia tak pernah lagi
bertanya mengapa Riskan sering libur sekolah.

Komentar
Posting Komentar